Islam  

Apakah Hukum Hormat Kepada Bendera

Apakah Hukum Hormat Kepada Bendera

Saat ini, bangsa Indonesia tengah memperingati Hari Kemerdekaan yang ke-75. Tentu ini merupakan kebahagian tersendiri, karena kita telah merasakan kedamaian dalam artian terlepas dari penjajahan bangsa lain.

Nah, disaat seperti ini pulalah, banyak dilakukan kegiatan-kegiatan dalam menyemarakkan hari kemerdekaan tersebut. Diantaranya diadakannya upacara bendera di seantero Nusantara dari Sabang hingga Merauke.

Lantas pula dalam upacara tersebut ada sebuah sikap yang sedikit menjadi bahan pembicaraan bagi sebagian kalangan, yaitu tentang penghormatan kepada bendera.

Tuntunan Jual Beli Emas Agar Halal dan Berkah

Nah, melalui tulisan ini, admin mencoba merangkum dari sebuah artikel di website Muslim.or.id, dengan judul Hukum Hormat Kepada Bendera yang disusun sebelumnya oleh Raehanul Bahraen. Semoga nantinya tulisan ini mampu menjawab persoalan yang menjadi pembicaraan bagi sebagian orang tersebut.

Pertanyaan ini sering diajukan oleh kaum muslimin, terutama di Indonesia yang memiliki tata cara penghormatan kepada bendera dengan cara berdiri menghadap bendera dan mengangkat tangan. Muncul beberapa pertanyaan, apakah bentuk peghormatan seperti ini boleh? Apakah dilarang agama? Bahkan ada yang bertanya apakah sampai tahap kesyirikan?

Hukum hormat kepada bendera diperselisihkan oleh para ulama, ada ulama yang melarang secara mutlak dan ada ulama yang memperbolehkan. Kami nukilkan salah satu dari beberapa fatwa ulama tersebut.

Fatwa ulama yang melarang adalah fatwa Al-Lajnah, berikut kami sajikan fatwanya:

Yuk, Biasakan Baca Surat Al Kahfi di Setiap Jumat

Pertanyaan: Apa hukum hormat bendera yang dilakukan oleh tentara, menghormati komandan dan mencukur jenggot?

Jawab: Tidak boleh menghormati bendera, bahkan ini termasuk bid’ah yang dibuat-buat…… [Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah 1/236]

Adapun ulama yang membolehkan adalah Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Ubaikan, beliau menyatakan bahwa hormat bendera tidak sampai pada tahap ibadah dan bendera di zaman ini hanya sebagai syair/lambang negara, tidak sampai pada tahap pengagungan ibadah. Orang yang hormat bendera tidak ada dalam hatinya pengangungan ibadah seperti ini.

Berikut penjelasan beliau,

“Permasalahan kontemporer membutuhkan pemahaman yang dalam/detail yaitu fakta di zaman ini mengenai masalah yang terkait dengan menghormati negara, aturan dan menghormati lambangnya yaitu hormat bendera. Maksud dari berdiri untuk menghormati bendera telah dibahas oleh sebagian orang dengan tanpa dasar fakta dan penggambaran kasus yang valid. mereka mengeluarkan hukum yang tidak sesuai dengan fakta (waqi’), tidak pula sesuai dengan maksud orang yang menghormati bendera. Apabila kita perhatikan, bendera itu asalnya adalah untuk menyatukan pasukan di bawah satu komando dalam peperangan dan menjadi lambang kepemimpinan, apabila bendera jatuh maka bermakna kekalahan. Apabila kita melihat orang yang berdiri dan menghormati bendea, kita dapati mereka tidaklah mengangungkan bendera itu, akan tetapi menghormati sebagai syiar/lambang saja. Apabila ada ulama yang mengatakan bahwa hormat bendera adalah bid’ah dalam syariat, maka ini berkonsekuensi bahwa orang yang hormat bendera sedang beribadah kepada Allah dengan wasilah bendera. Maksud dari bid’ah ini, tidaklah kita dapati pada seorangpun yang melakukan hormat bendera dengan makna ini. Apabila ada seseorang yang mengatakan bahwa menghormati bendera ini untuk tujuan pengagungan ibadah, maka ini tidak diragukan lagi adalah kesyirikan. Tidak kita dapati seseorangpun melakukan/bermaksud seperti ini. Dengan menekankan poin ini, maka jelaslah bahwa orang yang menghormati bendera tidak bermaksud demikian, mereka bermaksud menghormati negara dan lambangnya.” [sumber: https://majles.alukah.net/t46728/]

Dari kedua pendapat ulama ini, kami lebih condong kepada pendapat yang menyatakan bahwa hukum hormat bendera bukanlah bid’ah dan suatu hal yang terlarang karena bukan termasuk ibadah dan hanya bentuk penghormatan kepada negara, sedangkan bendera hanya lambang.

Terkait dengan “pendapat bahwa hormat bendera adalah kesyirikan”, maka ini pendapat yang tidak tepat. Berikut penjelasan syaik Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin,

“Adapun hormat bendera, kami tidak setuju apabila dikatakan kesyirikan, hormat bendera bukanlah kesyirikan. Apakah dia sujud kepada bendera? Apakah dia ruku’ kepada bendera? Apakah dia menyembelih untuk bendera? Bahkan apakah menghormati dengan salam apakah kesyirikan? Ini bukanlah kesyirikan.” [sumber: https://www.youtube.com/watch?v=q1C2P8lW-5Y]

Aturan boleh “tidak angkat tangan” untuk hormat bendera secara hukum Indonesia
Ternata hukum di Indonesia tidak mengharuskan atau mewajibkan orang yang hormat bendera dengan mengangkat tangan dan meletakkan di pelipis sebagaimana gerakan hormat bendera. Cukup dengan berdiri dengan meluruskan kedua tangan ke bawah.

Nabi Ibrahim Sebagai Teladan Umat Manusia

Berikut berita mengenai mantan wakil presiden Indonesia yaitu Jusuf Kalla yang tidak angkat tangan untuk hormat untuk hormat bendera. Hal ini tidak menyalahi aturan secara hukum. Kami nukilka beritanya:

“Mereka yang tidak berpakaian seragam memberi hormat dengan meluruskan lengan kebawah dan melekatkan tapak tangan dengan jari-jari rapat pada paha, sedang semua jenis penutup kepala harus dibuka, kecuali kopiah, ikat kepala, sorban dan kudung atau topi-wanita yang dipakai menurut agama atau adat-kebiasaan.”

Khusus penjelasan mengenai tutup kepala telah dijelaskan sebelumnya dalam penjelasan pasal 20.

Sehingga jika merujuk aturan, seorang Jusuf Kalla tidak melanggar aturan yang ada, karena penghormatan dengan mengangkat tangan dan menempatkannya di pelipis tidak pernah masuk dalam sebuah aturan untuk penaikan dan penurunan bendera pusaka. “Beri Hormat” seperti gerakan pada umumnya, merupakan budaya atau aturan yang dilakukan dalam sebuah organisasi dengan aturan tersendiri. [sumber: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20150817144736-12-72678/tak-angkat-tangan-hormati-bendera-jk-tak-salahi-aturan]

Wakil presiden pertama Indonesia Moh Hatta juga tidak mengangkat tangan untuk hormat bendera, sebagaimana digambar dan berita berikut: https://jogja.tribunnews.com/2015/08/17/ini-penjelasan-kenapa-wapres-tak-angkat-tangan-saat-hormat

Kesimpulan Hukum Hormat Kepada Bendera :

  1. Terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai hukum hormat bendera, ada yang melarang karena dianggap bid’ah dan ada yang membolehkan karena hormat bendera tidak sampai pada tahap ibadah dan bendera di zaman ini hanya sebagai syair/lambang negara, tidak sampai pada tahap pengagungan ibadah
  2. Kami cenderung kepada pendapat ulama yang membolehkan karena orang yang hormat bendera tidak ada dalam hatinya pengangungan ibadah terhadap bendera
  3. Hormat bendera bukan termasuk kesyirikan
  4. Secara hukum indoneisa, boleh tidak angkat tangan untuk hormat bendera dan apabila ada rakyat melakukan hal ini, hendaknya tidak langsung dtuduh “anti-NKRI” atau tidak cinta terhadap Indonesia

Demikian semoga bermanfaat

Penyusun: Raehanul Bahraen/Artikel www.muslim.or.id

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/58046-hukum-hormat-kepada-bendera.html

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *