Kenali Keutaman Beramal di Hari Jumat Mulia

  • Bagikan
amalan bagus di hari jumat

SUMBAR24.COM — Masih banyak orang diantara kita yang belum mengetahui keutamaan hari Jumat. Untuk itu melalui tulisan yang pendek ini, admin sarikan sebuah tulisan dari Muslim.or.id yang berjudul Menyibukkan diri dengan Dzikir dan Membaca Al-Quran di Hari Jumat.

Bahwa keutamaan yang besar di hari Jumat patut kita pelajari, namun harus sesuai dengan petunjuk Rasulullah dan sahabatnya. Berikut amalan yang utama di hari tersebut di anataranya

Memperbanyak membaca Al Quran di hari Jumat
Membaca Al Quran di hari biasa pu kita memang dituntut untuk melakukannya. Apalagi di hari Jumat. Para ulama telah menyebutkan dianjurkannya membaca surat Al-Kahfi di hari Jum’at, berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Said Al-Khudhri radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Baca juga :

Apa Yang Terjadi Ketika Wanita Muslimah Menikah dengan Pria Non Muslim

“Barangsiapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An-Nasai dan Baihaqi. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dalam Shahihul Jami no. 6470)

Yang dimaksud dengan hari Jumat adalah antara terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Maka di antara dua hal tersebut adalah waktu dianjurkannya membaca surat Al-Kahfi.

Sehingga dianjurkannya membaca surat Al-Kahfi tidaklah khusus hanya ketika shalat Jumat saja, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian manusia. Jika seseorang membaca surat Al-Kahfi setelah shalat subuh atau setelah shalat ashar, itu pun sudah mencukupi, insyaa Allah. (Lihat Majmu Al-Fataawa, 24: 215)

Dianjurkan bagi orang yang menghadiri shalat Jumat untuk memperbanyak shalat sunnah, sebanyak yang dia mampu.
Jika selesai dari ibadah shalat sunnah, dia bisa membaca Al-Quran, jika memang bisa (mampu) membaca Al-Quran.

Menyibukkan diri dengan dzikir dan berdoa
Jika tidak mampu membaca Al-Quran, hendaknya dia menyibukkan diri berdzikir kepada Allah Ta’ala dan berdoa kepada-Nya. Bertambahlah pahala dari membaca dzikir tersebut karena keutamaan hari Jumat.

Dianjurkan pula untuk memperbanyak berdoa di sepanjang hari Jumat tersebut, sejak terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari, dengan penuh harap bersesuaian dengan waktu dikabulkannya doa (waktu ijabah). Waktu ijabah tersebut diperselisihkan oleh para ulama dengan perbedaan pendapat yang banyak sekali. Waktu tersebut diisyaratkan dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan hari Jum’at, kemudian beliau berkata,

“Di hari Jumat terdapat suatu waktu, yang tidaklah seorang hamba muslim berdiri melaksanakan shalat, kemudian dia memanjatkan suatu doa pada Allah bertepatan dengan waktu tersebut, melainkan Allah akan memberi apa yang dia minta.” (HR. Bukhari no. 935 dan Muslim 2006)

Wallahu Taala alam, dari pendapat-pendapat ulama terkait masalah ini, pendapat yang paling kuat adalah yang mengatakan bahwa waktu tersebut adalah setelah shalat ashar di hari Jumat.

Memperbanyak shalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam
Para ulama juga menyebutkan dianjurkannya memperbanyak shalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam di hari Jumat. Orang yang sudah hadir di masjid untuk shalat Jumat, namun tidak berkehendak untuk memperbanyak shalat sunnah, dianjurkan untuk memperbanyak shalawat.

Hali ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari sahabat Aus bin Aus radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya di antara hari-harimu yang paling utama adalah hari Jumat, pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu beliau wafat, pada hari itu juga ditiup (sangkakala), dan pada hari itu juga mereka pingsan. Maka perbanyaklah shalawat kepadaku -karena- shalawat kalian akan disampaikan kepadaku.”

Aus bin Aus berkata, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin shalawat kami bisa disampaikan kepadamu, sementara Anda telah tiada (meninggal)? -atau mereka berkata, “Telah hancur (menjadi tulang belulang).”

Baca juga :

Puasa di Bulan Muharram, Seutama-utamanya Puasa

Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi.” (HR. Abu Dawud no. 1047, An-Nasai no. 1374, Ibnu Majah no. 1636, dan lain-lain. Dinilai shahih oleh Al-Albani)

Sebagian orang, ketika selesai mengerjakan shalat sunnah, mereka pun mulai mengantuk sampai ketika khatib naik mimbar. Perbuatan semacam ini berarti telah menghalangi dari kebaikan yang sangat banyak, dia pun terlewat dari mendapatkan kebaikan yang sangat banyak di hari Jumat. Terdapat hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila salah seorang mengantuk di dalam masjid (ketika khutbah Jumat), hendaknya dia pindah tempat duduk ke tempat duduk yang lain.” (HR. Abu Dawud no. 1119, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Adapun hikmah adanya perintah berpindah tempat adalah agar orang tersebut kemudian bisa menggerakkan badannya untuk mengusir rasa kantuk tersebut. Kemungkinan hikmah yang lain adalah agar seseorang berpindah dari tempat yang telah membuat dia lalai (dengan mengantuk), ke tempat yang baru. Wallahu alam. (Lihat Nailul Authar, 3: 284)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *