2 Penjual Miras Pelanggar Perda Dimeja-hijaukan, Warga Payakumbuh: Semoga Jera

Penjual Miras Pelanggar Perda Dimeja-hijaukan

SUMBAR24.COM — Dua penjual miras pelanggar perda Pekat di Kota Randang diseret ke meja hijau. Tindakan ini sebagai bukti keseriusan Pemko Payakumbuh dalam memerangi bentuk maksiat.

Penyakit masyarakat seperti tentu akan terus diminimalisir, pelanggaran yang terbukti terhadap perda ini, tinggal menunggu sanksinya, karena telah berdampak kerusakan moral warga.

Penjual miras pelanggar perda ini tersangkut dengan Perda No. 16 Tahun 2016 Tentang Pencegahan dan Penindakan Penyakit Masyarakat dan Maksiat (Pekat) disidang di Kantor Pengadilan Negeri Kota Payakumbuh, Jumat (13/11/20).

Bertindak selaku Penyidik Pegawai Negeri Sipil, Ricky Zaindra yang juga Kabid Penegak Perda didampingi penyidik Syafri mendengarkan hasil putusan tipiring dari hakim.

Baca juga : Hari Kesehatan Nasional, Wako Riza : Disiplinkan Diri Dengan Prokes

Pelaku inisial SS (pria), didenda sebesar Rp. 2.000.000 atau kurungan selama 7 hari karena tertangkap tangan menjual miras jenis tuak. SS tertangkap oleh petugas sewaktu operasi yustisi protokol kesehatan beberapa waktu yang lalu di dekat pasar Ibuah, dengan barang bukti 6 jerigen tuak.

Pelanggar kedua, inisial RS (50), wanita, didenda sebesar Rp. 10.000.000 atau kurungan selama 14 hari. Dirinya terdakwa penjual miras yang dirazia oleh Tim 7 Payakumbuh pada Rabu malam, pekan yang lalu. Barang bukti berupa 472 botol miras beralkohol, berbagai merek dari jenis anggur merah, brandy, dan whisky.

Kepala Satpol PP dan Damkar, Devitra, mengatakan putusan pengadilan bersama kedua terdakwa diserahkan ke kejaksaan oleh PPNS. Dari informasi yang diterima dari PPNS di kejaksaan, dihadapan jaksa kedua pelanggar Perda itu memilih putusan untuk membayar denda daripada kurungan penjara.

“Semoga penegakan hukum yang kita lakukan dapat membuat efek jera terhadap pelaku penjual miras lainnya. Kami dari tim 7 maupun petugas penegak Perda bakal sering razia. Demi menciptakan Kota Payakumbuh bebas dari pelanggaran pekat dan maksiat,” kata Devitra.

Ketua Karang Taruna Kelurahan Tiakar, Petrianto, mendukung penindakan yang dilakukan pemko itu dan sangat mengapresiasi kasus dua penjual miras ini langsung dibawa ke meja hijau.

Menurutnya petugas harus menjadwalkan razia rutin selain petugas juga dapat menerima laporan dari masayarakat terkait adanya indikasi pelanggaran.

Baca juga : Loka POM Kabupaten Dharmasraya Ke Payakumbuh, Wako Riza Falepi Berikan Motivasi

“Kami berharap petugas kita menindak dengan tidak tebang pilih. Agar efek jeranya lebih terasa, dan bisa kita wujudkan Payakumbuh menjadi kota yang sesuai falsafah minang, yaitu Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, ini keinginan kita semua,” kata Opet.

Sementara itu, Anto warga lainnya berharap agar petugas tak hanya mengawasi permasalahan Covid-19 dan miras saja, namun bagaimana pengawasan Narkoba juga dilakukan, karena beberapa kasus penangkapan oleh kepolisian saat ini banyak di ganja dan sabu.

“Jangan sampai lemahkan pertahanan kita, nanti bisa rusak generasi muda kita kalau dicekoki miras dan penyalahgunaan obat, apalagi karena narkoba,” tutup Anto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *