Hajjah Rangkayo Rasuna Said, ‘Srikandi Indonesia’ yang Hidup di Tiga Zaman

  • Bagikan
Hajjah Rangkayo Rasuna Said

SUMBAR24.COM — Sahabat #sumbar24, tahukah Anda dengan nama Hajjah Rangkayo Rasuna Said? Nama ini sering diabadikan menjadi nama jalan utama di kota-kota besar seperti di Jakarta, Bandung, dan kota-kota di Sumatera Barat. nah, melalui tulisan kali ini admin sadur dari sejumlah sumber yaitu dari laman nationalgeographic.grid.id dan wikipedia, Sabtu (13/03/21).

Rasuna Said adalah seorang perempuan bangsawan Sumatra Barat berpredikat rangkayo. Nama lengkapnya adalah Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Beliau lahir 14 September 1910 di Desa Panyinggahan, Maninjau, Agam, Sumatara Barat.

Menurut Esti Nurjanah dalam Peran Hajjah Rangkayo Rasuna Said dalam Memperjuangkan Hak-Hak Perempuan (1926-1965) menyebut setidaknya ada tiga poin penting mengenai riwayat hidup Rasuna Said.

Baca juga : Jenderal Hoegeng Saja Kagum, Bagaimana Hebatnya Muhammad Hatta

Pertama, Hajjah Rangkayo Rasuna Said memiliki latar belakang keluarga yang berasal dari kalangan ulama dan pengusaha terpandang. Faktor lingkungan yang sarat dengan adat Minang dan agama Islam, mempengaruhi kepribadiannya sehingga tumbuh menjadi perempuan berkemauan keras, tegas, dan taat pada syariat Islam.

Kedua, perjuangan Hajjah Rangkayo Rasuna Said dimulai dengan bergabung dalam Sarekat Rakyat tahun 1926. “Pada masa pendudukan Belanda hingga Jepang, dirinya aktif mengikuti berbagai organisasi. Beliau dikenal sebagai orator ulung, pendidik yang tegas serta penulis majalah,” tulis Esti.

Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Rasuna mendirikan lembaga pendidikan khusus untuk kaum perempuan. Para murid di sekolah itu diajarkan betapa pentingnya peranan kaum perempuan dalam proses perjuangan untuk mencapai kemerdekaan.

Hajjah Rangkayo Rasuna Said

Ketiga, perjuangan Hajjah Rangkayo Rasuna Said pasca kemerdekaan Indonesia lebih banyak di bidang politik. Ia terus mengembangkan kariernya dalam parlemen, mulai tingkat lokal hingga nasional di Jakarta.

Ayah Rasuna, Muhammad Said, adalah seorang aktivis pergerakan dan cukup terpandang di kalangan masyarakat Minang. Karena berasal dari keluarga bangsawan yang memperhatikan pendidikan, Rasuna disekolahkan. Namun, berbeda dengan saudara-saudaranya yang mengenyam pendidikan di sekolah umum yang didirikan Belanda, Rasuna memilih sekolah agama Islam.

Baca juga : Sepotong Kisah Achmad Mochtar, Putera Bonjol Si Jenius Ahli Bakteri

Selepas sekolah dasar, dia belajar di pesantren Ar-Rasyidiyah dan menjadi satu-satunya santri perempuan. Dari pesantren Ar-Rasyidiyah, Rasuna Said pindah ke Padang Panjang untuk bersekolah di Madrasah Diniyah Putri yang dikelola Rahmah El Yunusiyah.

Pemikiran Rasuna mengenai kemerdekaan mulai dibentuk sejak dia bergabung dengan Sekolah Thawalib di Maninjau. Sekolah Thawalib sendiri didirikan oleh gerakan Sumatra Thawalib yang dipengaruhi oleh pemikiran Mustafa Kemal Ataturk, tokoh nasionalis-Islam dari Turki.

Dalam catatannya, Jajang Jahroni menulis betapa Rasuna terinspirasi oleh pidato-pidato gurunya, H Udin Rahmani, seorang tokoh pergerakan kaum muda di Maninjau dan anggota Sarekat Islam. “Ia tumbuh menjadi seorang pribadi yang progresif, radikal, dan pantang menyerah,” tulis Jajang.

Baca Juga : Potongan Kisah Buya Hamka Bersama Soekarno, Yamin dan Pramoedya

Di sekolah itu pula, Rasuna wajib mengikuti latihan pidato dan debat. “[…] pidato-pidato Rasuna kadang-kadang laksana petir di siang hari,” tulis A Hasymi dalam buku Semangat Merdeka, 70 Tahun Menempuh Jalan Pergolakan dan Perjuangan Kemerdekaan (1985) seperti dikutip Jajang Jahroni.

Pada 1926, di usia yang belia, 16 tahun, Rasuna Said memutuskan berkecimpung di ranah politik dengan menjadi sekretaris cabang dari organisasi Sarekat Rakyat (SR) cabang Sumatera Barat. Tokoh sentral organisasi ini adalah Tan Malaka.

Lebih kurang empat tahun kemudian, Rasuna Said, bergabung dengan Soematra Thawalib dan mendirikan Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI) di Bukittinggi pada tahun 1930. Pada 1932, PERMI resmi menjadi partai politik yang berlandaskan Islam dan kebangsaan.

Di PERMI, Rasuna bertugas di bagian seksi propaganda. Dia juga berperan mendirikan sekolah, tempat kader-kader muda partai diajar keterampilan membaca dan menulis.

Dalam aktivitasnya sebagai propagandis, Rasuna kerap berorasi di hadapan publik yang mengkritik pemerintah kolonial Belanda. Dalam catatan Jajang Jahroni, Rasuna mengecam cara Belanda memperbodoh dan memiskinkan bangsa Indonesia. “Karena keberaniannya mengkritik pemerintah Belanda, ia dijuluki ‘singa betina’,” sebut Jajang Jahroni dalam “Haji Rangkayo Rasuna Said: Pejuang Politik dan Penulis Pergerakan” yang dimuat buku Ulama Perempuan Indonesia (2002).

Tak jarang di tengah pidatonya, Rasuna dipaksa berhenti dan diturunkan dari podium oleh aparat pemerintah kolonial Belanda yang khusus mengawasi kegiatan politik (PID). Puncaknya terjadi ketika Rapat Umum PERMI di Payakumbuh pada 1932. Saat Rasuna berpidato, datang aparat yang memaksanya berhenti. Ia pun ditangkap, diajukan ke pengadilan kolonial, kemudian dipenjara selama satu tahun dan dua bulan dengan dakwaan ujaran kebencian.

Karena ruang gerak PERMI di Minangkabau semakin dipersempit, Rasuna hijrah ke Medan. Di sana dia mulai kiprahnya di dunia jurnalistik bersama sejumlah majalah, termasuk Suntiang Nagari, Raya, dan Menara Poeteri.

Di Medan pula, Rasuna mendirikan lembaga pendidikan khusus untuk kaum perempuan. Sebagaimana dipaparkan Jajang Jahroni, para murid di sekolah itu diajarkan betapa pentingnya peranan kaum perempuan dalam proses perjuangan untuk mencapai kemerdekaan.

Selama era penjajahan Jepang sejak 1942, Rasuna Said terus berkiprah. Ia turut menggagas berdirinya perkumpulan Nippon Raya yang sebenarnya bertujuan untuk membentuk kader-kader perjuangan.

Atas tindakannya ini, dia dituduh menghasut rakyat. Kepada seorang pembesar Jepang, berdasarkan literatur yang ditemukan Jajang Jahroni, Rasuna mengatakan “Boleh Tuan menyebut Asia Raya karena Tuan menang perang. tetapi Indonesia Raya pasti ada di sini,” kata Rasuna sambil menunjuk dadanya sendiri.

Setelah Jepang angkat kaki dan Indonesia merdeka, Rasuna bergabung dengan Badan Penerangan Pemuda Indonesia, kemudian menjadi anggota Komite Nasional Indonesia mewakili Sumatera Barat.

Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Volume 1 (2004) mengungkapkan, Rasuna Said juga masuk keanggotaan Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP) di Jakarta, lalu menjadi anggota parlemen, atau Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat. Jabatan politik terakhir yang diembannya adalah anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA).

Esti Nurjanah dari Program Studi Pendidikan Sejara Universitas Negeri Yogyakarta menulis bahwa Rasuna Said telah merasakan hidup dalam tiga masa. Ia berhasil menjalani kehidupan dari masa kolonial Belanda, Jepang, sampai revolusi kemerdekaan.

Di masa-masa akhir hidupnya, perempuan yang disebut “Srikandi Indonesia” ini masih aktif dalam keanggotaan Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia. Aktivitas lain yang dilakukan Rasuna Said antara lain menghadiri atau mengisi kegiatan-kegiatan pertemuan.

Rasuna Said memasuki usia 55 tahun tanpa manyadari dirinya mengidap penyakit kanker payudara. Rasuna Said meninggal dunia karena kanker tersebut pada Selasa, 2 November 1965, di Jakarta. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Rasuna Said dianugerahi sebuah tanda Kehormatan Satyalancana Peringatan Perjuangan Kemerdekaan dan Satyalancana Perintis Pergerakan Kemerdekaan. Pengusulan gelar pahlawan untuknya akhirnya disahkan pada tanggal 13 Desember 1974 berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 084/TK/Tahun 1974 sebagai pahlawan pergerakan nasional.

Nama Rasuna Said diabadikan sebagai nama sebuah jalan protokol Ibu Kota Jakarta, tertulis H.R. Rasuna Said di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Bahkan di Sumatera Barat nama beliau diabadikan di jalan protokol Kota Padang, Payakumbuh, Bukittinggi, dan lain-lain.

https://nationalgeographic.grid.id/read/132580719/hajjah-rangkayo-rasuna-said-singa-betina-yang-hidup-di-tiga-masa?page=2
  • Bagikan