Yuk Ketahui, Kapan Saatnya Ucapkan Subhanallah dan Masya Allah?

  • Bagikan
Masya Allah
Dok. pexels photo

SUMBAR24.COM — Seringkali kita mendengar orang-orang mengungkapkan perkataan ‘Subhanallah‘ dan ‘Masya Allah‘. Kapan saat yang tepat untuk membaca kedua ungkapan tersebut? Karena sebenarnya, dua ucapan itu memiliki arti yang sangat berbeda dan tak digunakan hanya untuk mengungkapkan perasaan kekaguman saja.

Ulama kita menerangkan, dalam kitab Tafsir Al Quranul Karim Surat Al Kahfi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menjelaskan, ‘Masya Allah’ bisa digunakan untuk dua keadaan dalam bahasa Arab atau ikrab, mengingat memang ada dua makna di dalamnya.

Ikrab pertama, ungkapan ‘Masya Allah’ adalah kata benda yang berstatus sebagai fi’il syarath atau kata kerja yang mengindikasikan sebab. Mengutip Fatwa Nurun ‘alad Darbi Syaikh Abdul Aziz bin Baz, jika seorang mukmin saat melihat sesuatu yang membuatnya takjub, maka disarankan mengucapkan ‘Masya Allah’ atau ‘Barakallahu Fiik’.

Hal itu, juga tercantum dalam QS. Al Kahfi ayat 39, yang artinya : Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.

Ketika memuji, jangan lupa mengucapkan ‘Masya Allah’ (atas kehendak Allah) sebagai bentuk kekaguman kita dan pengagungan kepada Allah untuk menghindari dampak buruk yang mungkin menimpa orang yang dipuji akibat munculnya penyakit hati berupa hasad, misalnya. Masya Allah diucapkan ketika kita melihat suatu hal yang baik atau indah.

Dan pada Ikrab yang kedua dari ungkapan ‘Masya Allah’ adalah dengan menjadikan kata ‘maa’ sebagai isim maushul (kata sambung) dan berstatus sebagai predikat, dengan subjeknya adalah mubtada’ yang disembunyikan. Sehingga, bentuk lengkapnya adalah ‘hadzaa maa syaa Allah’ dan mengindikasikan sebab atau disebut maa syarthiyyah.

Nah, bagaimana dengan pengucapan untuk ‘Subhanallah’, Imam Nawawi dalam kitab Riyadh al-shalihin mengawalinya dengan hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA. Menurutnya, Rasulullah SAW bersabda, “Dua kalimat yang ringan diucapkan, namun berat dalam timbangan serta dicintai Allah yang Maha Penyayang adalah Subhanallah wa bihamdihi, subhanallah al-Azhim.” (Muttafaqun ‘Alaihi disepakati oleh para ahli hadist).

Subhanallah berarti Mahasuci Allah. Kita mengucapakan Subhanallah saat mendengar atau melihat hal buruk. Ucapan ini sebagai penegasan “Allah Mahasuci dari keburukan tersebut”.

Namun demikian, ada kondisi di mana kata ‘Subhanallah’ juga diungkapkan oleh rasa kaget atas ancaman yang disebutkan oleh Allah kepada orang yang malas membayar utang. Dari Muhammad bin Jahsy ra, “Suatu saat, Rasulullah melihat ke arah langit dan kemudian bersabda, ‘Subhanallah, betapa berat ancaman yang diturunkan’”.

Bagaimana, sekarang sudah lebih jelas. Jangan tertukar lagi ya kapan haru mengucapkan Subhanallah dan Masya Allah.

Baca Juga :

  • Bagikan

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *