Larangan Memaksa Orang Sakit untuk Makan?

  • Bagikan
Larangan memaksa orang sakit untuk makan

SUMBAR24.COM — Terdapat riwayat yang diklaim sebagai hadis Nabi Shallalalhu ‘alaihi wasallam yang isi kandungannya adalah tidak boleh memaksa orang yang sakit untuk makan dan minum. Riwayat tersebut adalah,

“Jangan paksakan orang sakit untuk makan, karena Allah sedang memberinya makan dan minum” (HR Tirmidzi).

Perlu ketahui bahwa ada perbedaan pendapat ulama terkait kesahihan hadis ini. Ada ulama yang menyatakan hadis ini hasan dan ada ulama yang menyatakan hadis ini lemah bahkan bathil.

Di antara ulama yang meng-hasan-kan adalah Tirmidzi, Al-Albani dan lain-lain, dalam fatwa Asy-syabakah Islamiyah asuhan Syekh Abdullah Al-Faqih dijelaskan,

“Hadis yang disebutkan tersebut diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Hakim, At-Thabraniy dalam al-Kabir, al-Ausath, Al-Baihaqi dan al-Bazzar. Hadts dihasanlan oleh at-Tirmizdi dan disahihkan oleh Al-Hakim dengan syarat Muslim. Disetujui oleh adz-Dzahabi dan di-hasan-kan dalam az-Zawaid dan Al-Albani dalam as-Silsilah as-Shahihah” (Fatwa no. 58519).

Adapun ulama yang yang menyatakan dhaif sekali atau bathil di antaranya an-Nawawi, Abu Hatim ar-Razi, Syekh Muqbil, Syekh Musthafa Al-Adawi dan lain-lain.

Baca Juga : Meski Riba Haram, Apakah Masih Boleh Berinteraksi dengan Bank Ribawi?

Syekh Muqbil Rahimahullah menjelaskan,

“Hadis ini sangat dhaif diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Majah dan lain-lain. Disebutkan dari empat sahabat Radhuallahu’anhu. Mereka adalah ‘Uqbah bin Aamir, Abdullah bin Umar, Abdurrahman bin Auf dan Jabir bin Abdillah. Semua sanadnya dhaif sekali dan tidak menguatkan satu sama lain. Oleh karena itu Abu Hatim ar-Razi berkata, hadis ini batil dan diingkari oleh Abu Zur’ah. Dilemahkan oleh an-Nawawi, Ibnul Jauzi dan lain-lain” (sumber: http://almuqbil.com/web/?action=fatwa_inner&show_id=1948).

Syekh Musthafa al-Adawi juga menjelaskan bahwa hadis ini lemah dan tidak boleh disandarkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam (sumber: https://youtu.be/gIZQF9dx8jg).

Dari perbedaan pendapat ini, kami lebih tenang dengan pendapat ulama yang menyatakan hadis ini dhaif. Sebagaimana kaidah (dan terpenuhi syaratnya),

“Jarh (kritik) secara rinci terhadap hadis didahulukan (dimenangkan) daripada ta’dil (menguatkan).”

Rincian jarh hadis ini bisa dibaca di sumber: https://www.tasfiatarbia.org/vb/showthread.php?t=7860.

Oleh karena hadis ini dhaif, maka tidak boleh disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak boleh membawa hadis ini sebagai ucapan beliau dalam ceramah, khutbah, tulisan dan lain sebagainya. Apabila disampaikan, maka harus dijelaskan bahwa hadis ini dhaif

Meskipun hadis ini kita anggap lemah, tetapi kandungan hadis ini dibenarkan oleh sebagian ulama. Hukum asalnya tidak boleh memaksa orang yang sakit untuk makan dan minum karena hal ini akan membuat tidak nyaman bahkan menyiksa mereka yang membuat tambah sakit. Dalam ilmu psikologi manusia, apapun yang dipaksakan tentu tidak nyaman. Oleh karena itu, kita dapatkan beberapa penjelasan ulama bahwa orang sakit hukum asalnya tidak boleh dipaksa untuk makan dan minum.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan,

“Oleh karena itu apabila oramg sakit merasa mual/jenuh dengan makan dan minum akibat tubuh yang sedang melawan penyakit atau turunnya nafsu & berkurangnya makan atau panas alami. Kapan pun terjadi hal ini maka tidak boleh memberikan makanan dalam keadaan ini” (Zadul Ma’ad 4/83).

Perlu diketahui bahwa beberapa keasaan orang sakit itu tidak bisa digeneralisir mereka tidak butuh makan dan minum, bahkan orang sakit tetap butuh makan dan minum yang bergizi dan makanan yang membantu pengobatan serta pemulihan. Penekana disini adalah “jangan memaksa”, karena yang namanya dipaksa pasti tidak nyaman. Masih ada solusi lain yaitu pasien diberikan edukasi dan dibujuk agar mau makan yang bergizi. Bentuk makanan juga bisa disesuaikan agar pasien mau makan seperti makanan bubur, susu rendah gula dan lemak, makanan yang dilembutkan dan sebagainya. Terkait makanan dan gizi pasien hendaknya kita bertanya kepada ahli gizi atau dokter ahli, keadaan pasien tidak bisa dipukul rata semuanya karena berbeda-beda sesuai dengan jenis & keadaan penyakit serta keadaan pasien.

Adapun maksud kalimat “Allah memberinya makan dan minum“, ini bukan maksudnya memberika makan dan minum secara hakikat, akan tetapi Allah memberikan kesabaran dan kekuatan menghadapi rasa lapar dan haus.

Syekh Muhammad Abdurrahman Al-Mubarakfuri Rahimahullah menjelaskan,

“Maksudnya adalah Allah memberikan kekuatan yang bisa menggantikan makan dan minum. Allah memberikan rezeki kepada mereka berupa kesabaran menghadapi perihnya lapar dan haus. Sesungguhnya kehidupan dan kekuatan dari Allah secara hakikat, bukan semata-mata dari makan, minum dan kesehatan” (Tuhfatul Ahwadzi 6/162).

Lafaz ini sebagaimana dengan hadis lainnya terkait puasa wishal yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam (puasa ini khusus bagi beliau dan tidak untuk umatnya), beliau juga menggunakan lafaz yang sama yaitu diberi makan dan minum dalam makna yang bukan hakiki. Beliau bersabda,

“Jangan menyambung (puasa wishal).” Mereka mengatakan, “Tapi engkau menyambung (puasa).” Beliau bersabda, “Aku tidak seperti kalian. Aku melalui malam dan Rabbku memberiku makan dan minum.” (HR. Bukhari & Muslim).

Perlu diketahui apabila keadaan orang sakit akan bahaya apabila tidak makan semisal kondisi menjadi drop, penurunan kesadaran, lambung akan rusak karena kosong dari makanan atau bahkan menyebabkan kematian, maka orang sakit tersebut bisa dipaksa makan & minum walaupun sedikit. Alhamdulillah di zaman ini sebagai pengganti makan dan minum tidak harus makan secara langsung. Bisa digantikan dengan cairan infus yang mengandung sari-sari makanan atau melalui selang nasogastrik dan lain-lain.

Syekh Muhammad Shalih al-Munajjid berdalil akan hal ini bahwa berobat dan makan itu tidak boleh dipaksa, tetapi apabila membahayakan memang harus dipaksa agar menghindari mudarat yang lebih besar. Beliau berkata,

“Jika jauh dari kemungkinan pasien akan meninggal atau bertambah penyakitnya, apabila memilih tidak minum obat atau makan, maka tidak mengapa (hukumnya mubah), insyaallah, akan tetapi jika dikhawatirkan akan meninggal apabila tidak minum obat, maka pendapat terkuat adalah BOLEH MEMAKSA untuk hal tersebut (memberi obat dan makan)” (Fatwa Sual wal Jawab no. 192633).

Kesimpulan:

  1. Hadits larangan memaksa orang sakit makan dan minum diperselisihkan ulama kesahihannya, kami lebih tenang dengan pendapat ulama yang men-dhaif-kannya, sehingga tidak diperkenankan menyandarkan riwayat ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan bahwa ini adalah hadis
  2. Kandungan hadis tersebut benar yaitu tidak boleh memaksa orang sakit makan dan minum karena sesuatu yang dipaksa tentu akan tidak nyaman dan bisa jadi membuat pasien lebih sakit.
  3. Pasien bisa edukasi dan dibujuk agar mau makan yang bergizi, jadi bukan dipaksa atau bahkan sebalikanya dibiarkan tanpa masuk gizi ke dalam tubuhnya dalam jangka waktu yang sangat lama.
  4. Terkait makanan dan gizi pasien hendaknya kita bertanya kepada ahli gizi atau dokter ahli, keadaan pasien tidak bisa dipukul rata semuanya karena berbeda-beda sesuai dengan jenis & keadaan penyakit serta keadaan pasien.
  5. Apabila tidak makan dan minum lalu dikhawatirkan pasien akan bertambah parah sakitnya atau meninggal, boleh dipaksa dan hal seperti ini banyak kita jumpai dalam berbagai kasus penyakit.
  6. Alhamdulillah dengan teknologi kedokteran modern saat ini, pasien tidak perlu dipaksa makan yang membuat tidak nyaman. Bisa digantikan dengan pemberian cairan infus atau selang nasogastrik apabila diperlukan sesuai indikasi saja

Penyusun: Raehanul Bahraen
Sumber: https://muslim.or.id/68419-larangan-memaksa-orang-sakit-untuk-makan.html

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *