Sabalenka beri pujian Elena Rybakina usai harus kembali puas sebagai runner-up di Australian Open 2026.
Petenis nomor satu dunia itu secara terbuka mengakui keunggulan lawannya setelah kalah dalam final tiga set yang dramatis di Rod Laver Arena, Melbourne.
Final tunggal putri Australian Open 2026 menjadi panggung duel elite antara dua petenis terbaik dunia.
Aryna Sabalenka dan Elena Rybakina tampil impresif sejak awal turnamen tanpa kehilangan satu set, sebelum akhirnya bertemu di partai puncak.
Namun, di laga penentuan, Rybakina tampil lebih tenang dan efektif hingga menutup pertandingan dengan skor 6-4, 4-6, 6-4.
Sabalenka Beri Pujian Elena Rybakina Setelah Final Dramatis
Usai pertandingan, Sabalenka tidak mencari alasan atas kekalahannya. Ia justru menunjukkan sikap sportif dengan memberikan apresiasi penuh kepada Rybakina yang dinilainya bermain lebih baik di momen-momen krusial.
“Saya rasa secara keseluruhan saya bermain tenis yang sangat bagus di Australia,” ujar Sabalenka dalam sesi konferensi pers.
“Bahkan di final ini pun saya merasa bermain dengan baik. Saya berjuang, saya melakukan yang terbaik, dan hari ini dia memang pemain yang lebih baik.”
Pernyataan tersebut menunjukkan kedewasaan mental Sabalenka, terutama setelah kembali gagal mengangkat Daphne Akhurst Memorial Cup untuk tahun kedua secara beruntun.
Performa Konsisten Sabalenka Sepanjang Australia Open 2026
Kekalahan di final tidak menghapus fakta bahwa perjalanan Sabalenka di Australian Open 2026 tergolong luar biasa.
Petenis berusia 27 tahun itu melaju ke final tanpa kehilangan satu set, mencatatkan rekor sebagai salah satu finalis paling dominan dalam sejarah modern turnamen.
Ia juga menjadi bagian dari final bersejarah bersama Rybakina, di mana keduanya menjadi pasangan pertama di final Grand Slam tunggal putri yang belum kehilangan satu set sejak Wimbledon 2008, serta yang pertama di Australian Open dalam 22 tahun terakhir.
Mentalitas Baru Sang ‘Harimau’
Setelah kalah di final Australian Open 2025 dari Madison Keys, Sabalenka mengakui bahwa ia melakukan banyak perbaikan dari sisi mental.
Fokusnya adalah menjaga emosi, tetap tenang di situasi sulit, dan membuat keputusan yang lebih matang di lapangan.
Hasilnya terlihat jelas sepanjang musim 2025. Sabalenka menutup tahun tersebut dengan meraih empat gelar besar, termasuk US Open, Madrid Open, Miami Open, dan Brisbane International.
Julukan “Harimau” yang disematkan penggemar kepadanya semakin mencerminkan ketangguhan mental dan fisik yang ia tunjukkan.
“Saya menyikapi setiap kekalahan secara terpisah,” jelas Sabalenka. “Setiap pertandingan selalu berbeda, dengan tantangan dan masalah yang berbeda juga.”
Tetap Optimistis Menatap Musim 2026
Meski kembali gagal di final Australia Open, Sabalenka memilih untuk melihat sisi positif dari kekalahan ini.
Ia menilai level permainannya jauh lebih baik dibandingkan final-final besar sebelumnya.
“Saya merasa level permainan dan mentalitas saya jauh lebih baik dibandingkan dua final besar yang saya kalah sebelumnya,” ungkapnya. “Saya tetap bertarung sampai akhir dan itu kemajuan besar bagi saya.”
Australian Open 2026 menjadi final Grand Slam kedelapan dalam karier Sabalenka dan final keempat berturut-turut di Melbourne, sebuah pencapaian yang hanya mampu diraih segelintir pemain di era Open.
Ambisi Besar Masih Menyala
Menatap sisa musim 2026, Sabalenka menegaskan bahwa ambisinya tidak berubah. Ia bertekad terus bekerja keras dan kembali bersaing di level tertinggi tenis dunia.
“Ambisi saya tetap sama. Terus berjuang, terus bekerja keras, dan mencoba yang terbaik setiap kali mendapat kesempatan di final,” katanya. “Saya ingin melihat berapa banyak gelar yang masih bisa saya raih.”
Dengan mentalitas seperti ini, Sabalenka akan tetap menjadi ancaman besar di setiap turnamen Grand Slam yang ia ikuti ke depan.






