Nigeria raih medali perunggu Africa Cup of Nations 2025 setelah melalui laga penuh ketegangan melawan Mesir yang berakhir tanpa gol di waktu normal dan harus berakhir lewat adu penalti.
Meski pertandingan perebutan tempat ketiga kerap dianggap formalitas, duel di Stade Mohammed V, Casablanca, justru menghadirkan drama, emosi, dan pembuktian mental dari skuad Super Eagles.
Kemenangan ini menjadi penutup manis perjalanan Super Eagles di AFCON 2025. Setelah gagal melangkah ke partai puncak, tim asuhan Eric Chelle tetap menunjukkan karakter kuat dengan memastikan mereka pulang membawa medali perunggu, hasil yang penting secara psikologis maupun prestise kontinental.
BACA JUGA: Alvaro Arbeloa Raih Kemenangan Perdana, Gol Madrid Berkat Mbappe dan Asencio
Laga Perebutan Tempat Ketiga yang Minim Kilau, Sarat Tekanan
Pertandingan perebutan peringkat ketiga kerap diwarnai rasa letih dan motivasi yang menurun. Hal itu terlihat jelas sejak menit awal laga Nigeria vs Mesir.
Kedua tim sama-sama tampil hati-hati, seolah masih dibayangi kekecewaan akibat kegagalan di semifinal.
Nigeria mencoba mengontrol permainan lewat penguasaan bola dan pergerakan sayap, sementara Mesir lebih mengandalkan organisasi pertahanan dan transisi cepat.
Namun sepanjang 30 menit awal, hampir tak ada peluang bersih yang tercipta. Ritme pertandingan berjalan lambat, minim kreativitas, dan jauh dari standar laga puncak turnamen.
Meski begitu, Nigeria perlahan terlihat lebih berani mengambil risiko. Tekanan mereka akhirnya hampir berbuah gol menjelang akhir babak pertama.
Gol Dianulir, Kekecewaan Nigeria di Babak Pertama
Momen paling menentukan di paruh pertama datang sembilan menit sebelum turun minum. Samuel Chukwueze hampir memecah kebuntuan lewat sundulan dari jarak dekat, tetapi berhasil ditepis kiper Mesir, Oufa Shobeir.
Bola muntah kembali milik Chukwueze, yang kemudian mengirimkan umpan lambung ke kotak penalti.
Akor Adams menyambut bola tersebut dengan sundulan akurat yang menggetarkan jala gawang Mesir. Para pemain Nigeria sempat merayakan gol itu, namun kegembiraan mereka tak berlangsung lama.
Wasit memutuskan untuk meninjau tayangan ulang melalui VAR. Setelah melihat monitor di pinggir lapangan, sang pengadil menyatakan Paul Onuachu melakukan pelanggaran terhadap Hamdy Fathy sebelum gol terjadi.
Keputusan itu membuat gol Adams dianulir dan skor kembali 0-0.
Keputusan kontroversial tersebut menutup babak pertama yang memang berjalan datar. Nigeria lebih agresif, tetapi belum cukup tajam untuk unggul.
BACA JUGA: Dua Gol Manchester United Lumat City Dalam Derby Panas, Debut Carrick Langsung Beri Harapan
Pergantian Pemain, Harapan Baru di Babak Kedua
Pelatih Nigeria, Eric Chelle, menyadari timnya membutuhkan energi dan inspirasi tambahan. Ia pun melakukan pergantian pemain di awal babak kedua dengan memasukkan Ademola Lookman menggantikan Onuachu.
Dampaknya nyaris instan. Hanya dalam satu menit pertama babak kedua, Lookman langsung mencetak gol lewat sentuhan pertamanya. Stadion sempat bergemuruh, tetapi sekali lagi Nigeria harus menerima kenyataan pahit: gol tersebut batal karena posisi offside.
Dua gol yang dianulir membuat mental Super Eagles benar-benar diuji. Namun alih-alih frustrasi berlarut-larut, Nigeria justru tetap tampil disiplin dan terus menekan, terutama melalui sektor sayap.
Mesir Kehilangan Aura Permainan Terbaik
Di sisi lain, Mesir terlihat belum pulih dari kekalahan menyakitkan di semifinal melawan Senegal. Tim berjuluk The Pharaohs tampil jauh dari ciri khas mereka yang biasanya penuh flair dan keberanian menyerang.
Mohamed Salah, yang biasanya menjadi pembeda, tampak kesulitan menemukan ruang. Mesir lebih sering bertahan dan mengandalkan bola mati, tetapi tanpa kualitas penyelesaian yang memadai.
Babak kedua berjalan dengan pola serupa babak pertama. Nigeria menguasai permainan, Mesir bertahan, dan peluang matang sangat jarang tercipta. Sepanjang babak kedua, hanya dua tembakan tepat sasaran yang tercatat, keduanya dari Nigeria.
Adu Penalti Jadi Penentu Medali Perunggu
Dengan skor tetap imbang hingga peluit panjang dibunyikan, laga harus ditentukan lewat adu penalti. Di sinilah ketenangan dan mental juara benar-benar diuji.
Drama langsung hadir sejak penendang pertama. Fisayo Dele-Bashiru gagal mengeksekusi penalti untuk Nigeria setelah tembakannya berhasil terbaca oleh kiper Mesir.
Tak lama berselang, Mohamed Salah juga gagal mencetak gol setelah penalti kapten Mesir itu gagal menaklukan penjaga gawang Nigeria, Stanley Nwabali.
Akor Adams kemudian membuka keunggulan Nigeria lewat eksekusi tenang. Momentum Super Eagles semakin kuat ketika Nwabali kembali menjadi pahlawan dengan menggagalkan penalti Omar Marmoush. Moses Simon pun sukses membawa Nigeria unggul 2-0 dalam adu penalti.
Mesir sempat memperkecil ketertinggalan melalui Ramy Rabia, tetapi Alex Iwobi tampil tanpa cela saat menjalankan tugasnya dari titik putih, membuat Nigeria semakin dekat dengan kemenangan.
Meski Mahmoud Sabar masih menjaga harapan Mesir dengan golnya, Ademola Lookman akhirnya memastikan kemenangan Nigeria. Tendangannya meluncur mulus ke gawang, memicu selebrasi besar dari para pemain dan pendukung Super Eagles.
BACA JUGA: Dua Gol Raphinha Kokohkan Barcelona di Puncak Klasemen La Liga Pekan 16
Medali Perunggu yang Bermakna Lebih
Hasil ini memastikan Nigeria Raih Medali Perunggu Africa Cup of Nations 2025, sebuah pencapaian yang mungkin tak sebesar gelar juara, tetapi tetap memiliki arti penting.
Nigeria menutup turnamen dengan catatan positif, menunjukkan kedalaman skuad, mental tangguh, dan konsistensi di level tertinggi Afrika.
Bagi Eric Chelle, medali ini menjadi bukti bahwa proyek yang ia bangun memiliki fondasi kuat. Bagi para pemain, kemenangan ini menjadi penebus kegagalan melaju ke final dan modal berharga untuk turnamen-turnamen mendatang.
Sementara bagi Mesir, kekalahan ini memperpanjang kekecewaan mereka di AFCON 2025. The Pharaohs harus pulang tanpa medali, sebuah hasil yang tentu akan memicu evaluasi besar.
Nigeria Pulang dengan Kepala Tegak
AFCON 2025 mungkin tidak berakhir dengan trofi untuk Nigeria, tetapi perjalanan mereka tetap layak mendapat apresiasi. Dari fase grup hingga laga perebutan tempat ketiga, Super Eagles menunjukkan identitas sebagai salah satu kekuatan utama sepak bola Afrika.
Di tengah laga yang membosankan secara permainan, Nigeria berhasil menunjukkan ketangguhan mental. Dan pada akhirnya, itulah yang membuat mereka pulang membawa medali perunggu, sebuah simbol bahwa mereka tetap berada di papan atas sepak bola Afrika.






