Alvaro Arbeloa raih kemenangan perdana sebagai pelatih Real Madrid dalam sebuah malam yang sarat emosi di Santiago Bernabeu. Setelah diguncang kekalahan mengejutkan di ajang Copa Del Rey, Los Blancos merespons tekanan dengan cara paling meyakinkan: kemenangan 2-0 atas Levante di lanjutan LaLiga.
Hasil ini bukan hanya tentang tiga poin, tetapi juga soal harga diri, kebangkitan mental, dan awal baru di bawah komando Arbeloa.
Bernabeu yang biasanya bergemuruh sempat diliputi kegelisahan. Siulan dari tribun terdengar jelas saat para pemain Madrid memasuki lapangan. Namun, justru dalam situasi inilah karakter tim raksasa diuji, dan Real Madrid lulus ujian itu.
BACA JUGA: Dua Gol Manchester United Lumat City Dalam Derby Panas, Debut Carrick Langsung Beri Harapan
Atmosfer Tegang dan Awal Laga Penuh Tekanan
Sejak menit pertama, pertandingan berjalan dalam nuansa tidak biasa. Publik tuan rumah masih menyimpan kekecewaan akibat hasil buruk di pertengahan pekan.
Levante mencoba memanfaatkan situasi tersebut dengan tampil berani. Bahkan, mereka hampir mencuri gol cepat ketika peluang emas hadir di awal laga, meski penyelesaiannya melenceng.
Real Madrid terlihat berhati-hati. Aliran bola belum sepenuhnya cair, beberapa percobaan serangan masih mentah. Kylian Mbappe dan Eduardo Camavinga sempat mencoba peruntungan, tetapi belum cukup tajam untuk mengoyak pertahanan lawan.
Levante pun tidak hanya bertahan. Melalui bola mati, mereka beberapa kali memaksa lini belakang Madrid bekerja ekstra. Thibaut Courtois relatif aman, tetapi rasa waswas tetap terasa di Bernabeu.
Babak Pertama yang Mencerminkan Tekanan Mental
Permainan berjalan alot. Madrid menguasai bola, namun minim peluang bersih. Sebuah tembakan jarak jauh sempat dilepaskan Aurelien Tchouameni, tapi berhasil diblok. Bahkan, bola pertandingan sempat harus diganti karena kempis, seolah mencerminkan ritme laga yang datar.
Momen terbaik Madrid di babak pertama datang dari umpan terobosan cerdas yang membelah pertahanan Levante. Mbappe lolos, namun penyelesaian akhirnya masih melebar. Peluang tersebut memancing tepuk tangan, tanda publik mulai kembali memberi energi.
Menjelang turun minum, Levante kembali mengancam lewat dua situasi bola mati. Madrid bertahan dengan disiplin, memastikan skor tetap imbang tanpa gol.
BACA JUGA: Dua Gol Raphinha Kokohkan Barcelona di Puncak Klasemen La Liga Pekan 16
Sentuhan Arbeloa Mengubah Arah Laga
Perubahan nyata terlihat selepas jeda. Alvaro Arbeloa mengambil keputusan berani dengan melakukan dua pergantian pemain sekaligus. Langkah itu menjadi titik balik.
Arda Guler langsung memberi warna berbeda. Pemain muda itu tampil penuh percaya diri, aktif mencari bola, dan berani menusuk pertahanan. Kombinasinya dengan Mbappe membuat lini belakang Levante mulai goyah.
Tekanan berbuah hasil ketika Mbappe dijatuhkan di kotak penalti. Tanpa ragu, sang bintang Prancis mengeksekusi sendiri dan mengirim bola ke gawang. Gol tersebut bukan hanya membuka skor, tetapi juga melepaskan beban psikologis yang sejak awal membelenggu Madrid.
Gol Kedua yang Mengukuhkan Dominasi
Setelah unggul, Real Madrid tampil jauh lebih lepas. Aliran bola semakin cepat, kepercayaan diri tumbuh. Arda Guler kembali jadi aktor penting lewat sepak pojok akurat yang disundul keras oleh Raul Asencio ke sudut atas gawang.
Bernabeu pun bergemuruh. Gol itu menegaskan perubahan wajah Madrid di babak kedua: lebih agresif, lebih berani, dan jauh lebih tajam.
Levante mencoba bangkit, namun ruang yang terbuka justru membuat mereka semakin rentan. Madrid nyaris menambah gol lewat beberapa peluang beruntun, termasuk tembakan jarak jauh dan sundulan di dalam kotak penalti. Meski gagal, keunggulan dua gol sudah cukup untuk mengontrol laga.
Kemenangan yang Memberi Nafas Baru
Hingga peluit akhir berbunyi, Real Madrid tampil tenang dan terorganisasi. Tidak ada kepanikan, tidak ada celah berarti bagi Levante. Ini adalah kemenangan yang menunjukkan kedewasaan tim di bawah tekanan.
Bagi Alvaro Arbeloa, hasil ini memiliki makna khusus. Kemenangan perdana sebagai pelatih Real Madrid datang di momen sulit, di hadapan publik sendiri, dan dengan cara yang meyakinkan. Ia tidak hanya membawa hasil, tetapi juga menghadirkan kembali identitas Madrid: bangkit saat terpojok.
Secara klasemen, kemenangan ini menjaga Madrid tetap menempel ketat rival abadinya. Jarak poin tetap tipis, dan peluang juara masih terbuka lebar. Sementara bagi Levante, kekalahan ini membuat mereka harus kembali berjuang di papan bawah.
Awal Cerita, Bukan Akhir
Kemenangan atas Levante mungkin bukan laga paling spektakuler musim ini. Namun, dalam konteks perjalanan Real Madrid, inilah laga yang bisa menjadi titik balik. Saat tekanan datang bertubi-tubi, mereka memilih bangkit, dan Alvaro Arbeloa berdiri di garis depan perubahan itu.
Bernabeu kembali bernapas lega. Dan bagi Madrid, ini baru permulaan.






