Bos Pramac MotoGP Buka Suara: Pengkhianatan Ducati, Drama Marquez, dan Nasib Jorge Martin yang Berubah Total

Bos Pramac MotoGP Buka Suara Pengkhianatan Ducati, Drama Marquez, dan Nasib Jorge Martin yang Berubah Total
Marc Marquez saat bersama tim Pramac MotoGP - Dokumentasi IG: @marcmarquez93

Dunia MotoGP kembali diguncang pengakuan mengejutkan dari salah satu tokoh penting di paddock. Bos Pramac MotoGP Buka Suara mengenai kisruh besar yang terjadi pada bursa pembalap musim panas 2024.

Paolo Campinoti, pemilik tim Pramac Racing, secara terbuka menuding Ducati tidak menepati janji mereka terkait masa depan Jorge Martin dan Marc Marquez.

Pernyataan ini membuka kembali luka lama dari salah satu drama kontrak terbesar dalam sejarah modern MotoGP.

Bukan hanya menyangkut dua nama raksasa, tetapi juga berdampak panjang pada arah karier pembalap, pergeseran kekuatan tim, hingga strategi pabrikan besar seperti Ducati, Aprilia, Yamaha, dan Gresini.

Awal Ledakan Bursa Transfer MotoGP 2024

Musim panas 2024 menjadi periode paling panas di pasar pembalap MotoGP. Saat itu, Ducati menghadapi dilema besar: memilih mempertahankan Jorge Martin, pembalap satelit yang tampil luar biasa bersama Pramac, atau merekrut Marc Marquez, legenda hidup yang sedang mencari jalan baru setelah meninggalkan Honda.

Jorge Martin sudah lama mendapat janji akan promosi ke tim pabrikan Ducati. Ia tampil konsisten, memimpin klasemen, dan digadang-gadang sebagai calon kuat juara dunia.

Banyak pihak di paddock meyakini kursi merah Ducati akan menjadi miliknya.

BACA JUGA: Spy Shot Buka Tabir Mobil F1 Racing Bulls 2026, Debut Perdana di Imola Picu Antusiasme Besar

Namun, situasi berubah drastis ketika Marc Marquez masuk dalam radar serius Ducati. Sang delapan kali juara dunia menegaskan satu hal: ia hanya mau menerima motor pabrikan, baik di tim utama Ducati atau di Gresini. Tawaran untuk membela Pramac dengan status satelit langsung ia tolak mentah-mentah.

Bos Pramac MotoGP Buka Suara soal Janji yang Dilanggar

Dalam wawancara eksklusif dengan media Italia Moto.it, Paolo Campinoti akhirnya mengungkap cerita di balik layar yang selama ini hanya menjadi rumor.

Menurut Campinoti, Ducati sebenarnya sempat menegaskan bahwa Jorge Martin tetap akan naik ke tim pabrikan, bahkan jika Marc Marquez menolak kursi Pramac. Dalam skenario itu, Marquez disebut akan tersingkir dari rencana Ducati.

“Semua itu sebenarnya mungkin terjadi,” ujar Campinoti. “Marc menolak ke Pramac, dan Ducati pada akhirnya mundur dari janji mereka.”

Lebih jauh, Campinoti menambahkan bahwa pihak Ducati sebelumnya mengatakan dengan jelas: jika Marquez tidak mau ke Pramac, maka Martin tetap promosi dan Marquez tidak akan masuk ke skuad Ducati.

Namun, realitas berbicara lain. Ducati berubah haluan. Janji itu tak ditepati.

Keputusan Mendadak yang Mengubah Hidup Jorge Martin

Situasi ini menciptakan ketegangan emosional besar bagi Jorge Martin. Merasa dikhianati dan tidak lagi dipercaya, sang pembalap mengambil langkah cepat: ia menandatangani kontrak dengan Aprilia.

Campinoti menilai keputusan itu bukan sekadar profesional, melainkan sangat personal.

“Ada luka secara manusiawi, bukan hanya soal karier,” jelasnya. “Itulah mengapa Martin langsung mengambil keputusan cepat untuk pergi ke Aprilia.”

Langkah tersebut menjadi titik balik besar. Martin memang akhirnya keluar sebagai juara dunia MotoGP 2024, tetapi hubungannya dengan Ducati sudah terlanjur retak.

Ducati Berpaling ke Marquez: Risiko dan Taruhan Besar

Keputusan Ducati merekrut Marc Marquez sebenarnya cukup kontras dengan sikap mereka setahun sebelumnya. Pada 2023, ketika Marquez mulai mempertimbangkan hengkang dari Honda ke Gresini, Ducati sempat bersikap dingin.

Namun, memasuki penentuan line-up 2025, sikap itu melunak drastis. Meski saat itu Marquez bahkan belum memenangi satu pun balapan dengan Desmosedici, Ducati tetap memilihnya.

Langkah ini berisiko besar. Di satu sisi, mereka kehilangan pembalap yang sedang berada di puncak performa dan akhirnya menjadi juara dunia. Di sisi lain, mereka mempertahankan ikon terbesar MotoGP yang punya nilai komersial dan teknis luar biasa.

Waktu kemudian membuktikan bahwa keputusan itu tidak sepenuhnya salah.

BACA JUGA: Somkiat Chantra Cedera Jelang Debut World Superbike 2026, Mimpi Besar yang Tertunda

Dominasi Marquez 2025 dan Nasib Tragis Jorge Martin

Musim 2025 menjadi panggung kebangkitan Marc Marquez. Bersama Ducati pabrikan, ia tampil menggila: 11 kemenangan grand prix dan 14 kemenangan sprint, mengamankan gelar juara dunia ketujuh di kelas utama.

Sementara itu, Jorge Martin justru diterpa badai. Cedera datang silih berganti. Dari total 22 seri, ia hanya mampu tampil di tujuh balapan.

Hubungannya dengan Aprilia pun memburuk akibat sengketa kontrak yang ia ajukan sendiri dan akhirnya kalah.

Ironisnya, pembalap yang sempat ditinggalkan Ducati justru menjadi korban dari keputusan cepat yang ia ambil demi menyelamatkan harga diri.

Dampak Besar bagi Pramac: Dari Juara Dunia ke Papan Bawah

Drama ini juga menghantam Pramac Racing dengan keras. Setelah membawa Martin menjadi juara dunia, Pramac justru memutuskan berpisah dengan Ducati dan beralih menjadi tim satelit Yamaha mulai 2025.

Hasilnya jauh dari kata manis. Dengan motor Yamaha yang belum kompetitif, Jack Miller dan Miguel Oliveira kesulitan bersaing. Pramac terpuruk hingga finis terakhir di klasemen tim 2025.

Namun, langkah itu adalah bagian dari visi jangka panjang Yamaha untuk kembali bangkit. Pramac kini terlibat langsung dalam pengembangan motor V4 baru Yamaha.

Sebagai sinyal ambisi, Pramac juga membuat kejutan besar dengan merekrut Toprak Razgatlioglu, tiga kali juara dunia World Superbike, untuk proyek masa depan mereka di MotoGP.

Efek Samping untuk Ducati: Perkembangan Motor Ikut Terganggu

Kehilangan Pramac ternyata bukan tanpa konsekuensi bagi Ducati. Jumlah motor pabrikan di grid berkurang dari empat menjadi tiga. Hal ini tentu memengaruhi proses pengembangan motor GP25 yang terkenal cukup sulit dikendalikan.

Meski begitu, Ducati tidak sepenuhnya kehilangan dominasi. Gresini mengambil peran yang Pramac tinggalkan. Dengan motor tahun sebelumnya, kedua pembalap Gresini sukses meraih empat kemenangan, menjaga hegemoni Ducati di kejuaraan.

BACA JUGA: Ferrari Copot Adami, Lewis Hamilton Bakal Punya Race Engineer Baru Jelang Musim 2026

Pelajaran Pahit dari Bursa Rider Terpanas MotoGP

Pengakuan Campinoti menegaskan satu hal: dunia MotoGP bukan hanya soal kecepatan di lintasan, tetapi juga politik, janji, dan keputusan yang bisa mengubah nasib banyak pihak.

Ducati mungkin mendapatkan juara dunia lewat Marquez. Namun, mereka juga kehilangan Martin, Pramac, dan stabilitas jangka panjang.

Bagi Jorge Martin, kisah ini menjadi pelajaran pahit tentang kepercayaan dan timing. Bagi Pramac, ini adalah fase transisi menyakitkan menuju masa depan yang belum pasti.

Dan bagi para penggemar, drama ini menjadi bukti bahwa bursa transfer MotoGP tak kalah panas dibanding pertarungan di tikungan terakhir.

Satu hal kini jelas: Bos Pramac MotoGP Buka Suara, dan pengakuannya akan terus terkenang sebagai salah satu kisah paling kontroversial dalam sejarah modern MotoGP.