Atmosfer Istora Senayan kembali memanas ketika salah satu tunggal putra terbaik Asia, Chou Tien Chen, menunjukkan kelasnya di babak 32 besar Indonesia Masters 2026.
Menghadapi wakil Irlandia, Nhat Nguyen, pebulu tangkis asal Taiwan itu menuntaskan tugasnya dalam dua gim langsung dengan skor 21-14, 21-15.
Kemenangan ini bukan sekadar tiket menuju babak 16 besar. Lebih dari itu, laga ini menjadi panggung bagi sosok yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai rival sengit Jonatan Christie. Meski kali ini tak bertemu dengan sang lawan klasik, Chou Tien Chen lewati hadangan Nhat Nguyen dengan cara yang tegas, rapi, dan penuh kontrol.
Rival Abadi Jonatan Tanpa Lawan Utama di Jakarta
Nama Chou Tien Chen selalu memiliki tempat khusus di hati pencinta bulu tangkis Indonesia. Bukan hanya karena prestasinya, tetapi juga karena rivalitas panjangnya dengan Jonatan Christie.
Sejauh ini, Chou dan Jonatan telah 17 kali bertemu di berbagai turnamen internasional. Rekor pertemuan yang nyaris seimbang, 8-9, menjadikan duel mereka sebagai salah satu rivalitas paling menarik di sektor tunggal putra Asia.
Sayangnya, Indonesia Masters 2026 harus kehilangan duel klasik itu. Jonatan Christie memutuskan mundur dari turnamen, membuat Chou melangkah tanpa harus menghadapi rival abadinya.
Namun, absennya Jonatan tak lantas membuat langkah Chou menjadi ringan. Nhat Nguyen hadir sebagai lawan yang siap memberi perlawanan, terutama dengan gaya bermain ulet dan disiplin.
Gim Pertama: Chou Langsung Tancap Gas
Sejak servis pertama, Chou Tien Chen tampil agresif. Ia membuka pertandingan dengan keunggulan cepat 3-0, memanfaatkan start lambat Nguyen yang tampak masih mencari ritme.
Keunggulan itu terus dijaga hingga interval gim pertama. Dengan permainan sabar dan penempatan bola presisi, Chou unggul 11-6 saat jeda. Variasi pukulan silang dan dropshot tipis membuat Nguyen kesulitan keluar dari tekanan.
Momen penting terjadi ketika Nguyen mencoba mempercepat permainan. Sebuah smes keras yang justru menyangkut di net memberi angka tambahan bagi Chou, mengubah skor menjadi 16-9.
Meski begitu, Nguyen tidak menyerah. Wakil Irlandia itu sempat memperkecil jarak menjadi 10-16, lalu kembali memangkas ketertinggalan hingga 13-17. Sekilas, peluang untuk bangkit mulai terbuka.
Namun, di titik inilah pengalaman Chou berbicara.
Penempatan Akurat Jadi Kunci Penutup Gim Pertama
Saat tekanan mulai terasa, Chou memilih bermain lebih aman. Ia mengandalkan penempatan bola ke sudut belakang lapangan, memaksa Nguyen bergerak ekstra.
Strategi itu langsung membuahkan hasil. Beberapa reli panjang berakhir dengan kesalahan Nguyen, hingga Chou mengunci gim pertama dengan skor 21-14.
Gim pembuka ini menjadi gambaran jelas perbedaan kelas. Chou unggul dalam membaca permainan, sementara Nguyen kerap terjebak dalam tempo yang diatur lawannya.
Gim Kedua: Nguyen Sempat Memimpin, Chou Langsung Membalas
Memasuki gim kedua, Nhat Nguyen mencoba mengubah pendekatan. Ia tampil lebih agresif dan sempat mencuri keunggulan cepat 2-0.
Namun, keunggulan itu hanya bertahan sekejap.
Chou merespons dengan lima poin beruntun, membalikkan keadaan menjadi 5-2. Sejak momen itu, pertandingan praktis kembali berada dalam kendali penuh wakil Taiwan.
Setiap kali Nguyen mencoba mempercepat tempo, Chou menjawab dengan permainan net yang rapi dan pukulan silang tajam. Jarak skor perlahan melebar, dan Nguyen kembali kesulitan mencari celah.
Netting Tipis Jadi Senjata Pamungkas
Poin-poin penentu datang dari area depan net. Beberapa kali Chou mengirim netting tipis yang gagal dikembalikan dengan baik oleh Nguyen.
Reli demi reli berakhir dengan kesalahan lawan, hingga akhirnya Chou menutup gim kedua dengan skor 21-15.
Dengan hasil ini, pertandingan resmi berakhir dalam dua gim langsung: 21-14, 21-15.
Tak ada selebrasi berlebihan. Chou hanya mengangkat tangan, memberi salam kepada penonton Istora yang kembali menyambutnya dengan tepuk tangan meriah.
Kedewasaan Permainan Chou Jadi Pembeda Utama
Kemenangan ini memperlihatkan betapa matang permainan Chou Tien Chen di usia 36 tahun. Ia tidak lagi memaksakan kekuatan, melainkan mengandalkan kecerdasan membaca permainan.
Dalam laga ini, Chou unggul dalam tiga aspek penting:
- Kontrol tempo : Ia menentukan kapan mempercepat dan kapan memperlambat permainan.
- Penempatan bola : Pukulan ke sudut belakang dan depan net menjadi senjata utama.
- Manajemen emosi : Saat Nguyen mencoba bangkit, Chou tetap tenang dan tidak terburu-buru.
Inilah kualitas yang membuatnya tetap kompetitif di level tertinggi meski usia tak lagi muda.
Langkah Mantap Menuju Babak 16 Besar
Dengan kemenangan ini, Chou Tien Chen Lewati Hadangan Nhat Nguyen dan resmi melaju ke babak 16 besar Indonesia Masters 2026.
Absennya Jonatan Christie memang mengurangi bumbu rivalitas, tetapi performa Chou menunjukkan bahwa ia tetap menjadi ancaman serius bagi siapa pun yang akan dihadapinya.
Setiap pertandingan ke depan akan menjadi ujian konsistensi. Namun, melihat cara Chou mengendalikan laga ini, peluangnya untuk melangkah jauh di Istora tetap terbuka lebar.
Pesan Kuat untuk Para Pesaing
Kemenangan dua gim langsung ini bukan hanya soal lolos babak. Ini adalah pesan jelas bagi para pesaing di sektor tunggal putra.
Chou Tien Chen masih sangat berbahaya.
Ia mungkin bukan lagi pemain termuda, tetapi pengalaman, ketenangan, dan kecerdasan bermain membuatnya tetap relevan di level elite.
Jika ia terus menjaga stabilitas seperti ini, bukan tidak mungkin rival sengit Jonatan itu akan kembali menjadi sorotan utama di fase-fase krusial Indonesia Masters 2026.
Satu hal yang pasti, malam di Istora menjadi saksi bahwa Chou Tien Chen Lewati Hadangan Nhat Nguyen dengan cara yang elegan, efektif, dan penuh wibawa.






