Perjalanan Alfeandra Dewangga bersama Persib Bandung di musim BRI Super League 2025/26 berubah drastis dalam waktu singkat. Dari pemain yang sempat jarang mendapat kesempatan tampil, kini ia menjelma menjadi salah satu figur penting di lini belakang Maung Bandung.
Lebih dari sekadar soal menit bermain, kisah ini adalah tentang kepercayaan, kerja keras, dan peluang yang dimanfaatkan dengan sempurna.
Musim ini, Alfeandra Dewangga raih kepercayaan sang pelatih Bojan Hodak bukan sebagai hadiah, melainkan hasil dari konsistensi yang ia tunjukkan ketika kesempatan akhirnya datang. Di saat Persib memburu sejarah besar: hattrick juara Liga Indonesia.
Awal Musim yang Tidak Mudah untuk Dewangga
Ketika resmi bergabung dari PSIS Semarang, Dewangga datang dengan ekspektasi tinggi. Namun, realitas awal musim justru tidak sepenuhnya berpihak kepadanya.
Dalam beberapa pekan pertama, namanya jarang muncul di daftar starter. Bojan Hodak masih mengandalkan pemain-pemain yang lebih dulu memahami sistem dan ritme permainan Persib.
Dewangga pun lebih sering memulai laga dari bangku cadangan, bahkan beberapa kali tak masuk pilihan utama.
Situasi ini sempat memunculkan tanda tanya: apakah bek muda ini mampu menembus persaingan ketat di lini belakang Persib?
Alih-alih mengeluh, Dewangga memilih menunggu dengan sabar. Ia memaksimalkan setiap sesi latihan, berusaha menunjukkan bahwa dirinya layak mendapat kesempatan.
Empat Laga Beruntun yang Mengubah Segalanya
Titik balik datang ketika Bojan Hodak mulai memberi kepercayaan lebih. Dalam empat pertandingan terakhir secara beruntun, Dewangga dipercaya turun sebagai starter.
Laga-laga krusial itu tidak main-main: melawan Bhayangkara Presisi Lampung FC, menghadapi PSM Makassar, berduel dengan Persik Kediri, hingga partai sarat gengsi kontra Persija Jakarta.
Di keempat pertandingan tersebut, Dewangga mengemban tugas di posisi bek sayap kiri. Sebuah peran yang menuntut keseimbangan antara bertahan dan membantu serangan.
Hasilnya? Ia tampil stabil, disiplin dalam menjaga area, dan tidak ragu naik membantu build-up. Bojan Hodak pun mulai menjadikannya pilihan utama di sektor kiri pertahanan.
Peran Kunci di Pos Bek Sayap Kiri
Kepercayaan itu tidak datang tanpa tanggung jawab. Posisi bek sayap kiri dalam skema Persib menuntut:
- Kecepatan untuk naik turun lapangan
- Kedisiplinan menjaga sisi pertahanan
- Kemampuan membaca pergerakan sayap lawan
Dewangga menjalankan tugas tersebut dengan cukup rapi. Ia jarang melakukan kesalahan fatal, mampu menjaga konsistensi, dan semakin padu dengan rekan-rekan satu lini.
Performa ini menjadi salah satu faktor yang membantu Persib mengakhiri paruh musim di puncak klasemen.
Sebuah capaian penting bagi tim yang sejak awal menargetkan lebih dari sekadar posisi teratas di tengah musim.
Persib di Puncak, Mimpi Hattrick Juara Semakin Nyata
Berada di posisi pertama saat jeda kompetisi menjadi modal besar bagi Persib Bandung. Lebih dari sekadar angka, posisi ini menjadi pijakan menuju ambisi terbesar: mencetak sejarah dengan tiga gelar juara berturut-turut.
Dewangga sendiri tak menutupi ambisi tersebut.
Ia menegaskan bahwa status juara paruh musim sudah sesuai dengan target tim sejak awal.
“Pasti sesuai ekspektasi karena kita memang ingin juara lagi dan mencetak sejarah tiga kali juara berturut-turut di Indonesia,” ucapnya.
Pernyataan itu menggambarkan satu hal: mental juara mulai tumbuh kuat di dalam skuad.
Motivasi Tambahan di Tengah Rumor Bursa Transfer
Memasuki paruh kedua musim, dinamika tim kembali berubah. Bursa transfer mulai bergeliat, dan rumor kedatangan pemain baru semakin kencang terdengar.
Bagi Dewangga, situasi ini justru menjadi sumber motivasi tambahan.
Ia menyadari, persaingan di dalam tim akan semakin ketat. Namun, ia memilih menyikapinya dengan sikap profesional.
“Yang penting kami mengikuti arahan pelatih. Kalau ada pemain baru, semoga bisa cepat menyatu dan membangun chemistry,” ujarnya.
Alih-alih takut tersingkir, Dewangga justru berharap kehadiran pemain baru bisa memperkuat tim secara keseluruhan.
Persib Melepas Tiga Pemain, Perombakan Mulai Terasa
Manajemen Persib tidak tinggal diam di bursa transfer. Hingga kini, tercatat tiga pemain telah dilepas di antaranya Hamra Hehanussa, Rezaldi Hehanussa, Wiliam Marcilio.
Kepergian tiga nama tersebut membuka ruang bagi kedatangan pemain baru, terutama di sektor pemain asing.
Situasi ini otomatis mengubah peta persaingan internal. Setiap pemain, termasuk Dewangga, dituntut menjaga performa agar tetap berada dalam rencana utama pelatih.
Bojan Hodak dan Filosofi Kepercayaan
Salah satu faktor penting dalam kisah ini adalah gaya kepelatihan Bojan Hodak.
Pelatih asal Kroasia itu dikenal tidak ragu memberi kesempatan kepada pemain yang menunjukkan perkembangan di latihan. Bagi Hodak, performa harian sama pentingnya dengan reputasi.
Dewangga menjadi contoh nyata filosofi tersebut. Dari pemain yang sempat terpinggirkan, kini ia menjadi bagian penting dalam rencana tim.
Inilah makna sesungguhnya dari Alfeandra Dewangga Raih Kepercayaan Sang Pelatih Bojan Hodak: bukan karena status, tetapi karena kerja keras.
Tantangan Paruh Kedua: Menjaga Konsistensi
Meski kini berada di posisi ideal, tantangan sesungguhnya justru ada di depan mata.
Paruh kedua musim akan menghadirkan:Tekanan lebih besar dari para pesaing, Jadwal yang lebih padat, Persaingan internal yang semakin ketat.
Bagi Dewangga, tugas utamanya adalah menjaga konsistensi. Satu-dua laga bagus tidak cukup untuk mengamankan tempat utama.
Ia harus terus menunjukkan kedisiplinan bertahan, keberanian membantu serangan, dan fokus sepanjang 90 menit
Dari PSIS ke Persib, Perjalanan yang Kian Matang
Kepindahan dari PSIS Semarang ke Persib Bandung jelas bukan langkah kecil. Tekanan, ekspektasi, dan sorotan media jauh lebih besar.
Namun, musim ini menunjukkan bahwa Dewangga mulai menemukan ritme terbaiknya.
Kepercayaan dari pelatih, dukungan rekan setim, serta atmosfer juara di ruang ganti membuatnya berkembang pesat.
Jika ia mampu mempertahankan performa, bukan mustahil namanya akan menjadi salah satu kunci di balik ambisi hattrick Persib.
Satu Langkah Kecil Menuju Sejarah Besar
Perjalanan masih panjang. Gelar juara belum ada di tangan. Namun, satu hal sudah jelas: Dewangga kini bukan lagi pelengkap.
Ia telah membuktikan bahwa kesempatan, sekecil apa pun, bisa mengubah nasib seorang pemain.
Dan di tengah ambisi besar Persib mengejar sejarah, kisah Alfeandra Dewangga Raih Kepercayaan Sang Pelatih Bojan Hodak menjadi simbol bahwa kerja keras tetap menjadi mata uang paling berharga dalam sepak bola.
Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin Dewangga akan dikenang sebagai salah satu figur penting di musim bersejarah Maung Bandung.






