Stan Wawrinka catat kemenangan perdananya di Australian Open 2025. Kalimat itu menjadi penanda sebuah malam penuh emosi di Melbourne, ketika petenis veteran Swiss akhirnya kembali tersenyum di panggung Grand Slam yang pernah membesarkan namanya.
Di usia 40 tahun, di musim terakhir karier profesionalnya, Wawrinka membuktikan bahwa semangat juang belum pernah pudar.
Bermain sebagai wild card di Kia Arena, Senin waktu setempat, Wawrinka bangkit dari ketertinggalan satu set untuk menumbangkan petenis Serbia Laslo Djere dengan skor 5-7, 6-3, 6-4, 7-6(4).
Kemenangan ini bukan sekadar tiket ke putaran kedua, tetapi juga kemenangan pertamanya di Australian Open dalam lima tahun terakhir dan kemenangan Grand Slam pertamanya sejak Wimbledon 2024.
Di tengah sorak-sorai penonton, sang juara Australian Open 2014 kembali merasakan atmosfer kemenangan yang mungkin hanya tersisa sedikit dalam sisa karier panjangnya.
Dukungan Penonton Jadi Energi Tambahan
Tribun Kia Arena memang tidak dipenuhi warna merah dan putih khas Swiss. Namun suara dukungan yang mengalir deras terasa seperti pelukan hangat bagi Wawrinka.
Setiap poin penting yang ia menangkan disambut tepuk tangan panjang, seolah penonton ingin mengantarnya menikmati momen perpisahan yang indah dengan dunia tenis.
Wawrinka mengakui dukungan itulah yang membuatnya terus kembali ke lapangan meski usia tak lagi muda.
“Perjalanan ini panjang dan penuh kenangan. Saya kembali karena cinta dari kalian. Ini tahun terakhir saya, dan semangat itu masih ada,” ujar Wawrinka dengan mata berbinar usai pertandingan.
Bagi Wawrinka, Australian Open bukan sekadar turnamen. Di sinilah ia pernah meraih salah satu puncak kariernya, mengalahkan Rafael Nadal di final 2014.
Bertahun-tahun kemudian, ia kembali bukan sebagai favorit, melainkan sebagai pejuang yang ingin menikmati setiap detik tersisa.
Bangkit dari Tekanan, Menang Lewat Drama Empat Set
Laga melawan Laslo Djere berjalan jauh dari kata mudah. Set pertama menjadi milik Djere dengan skor 7-5 setelah Wawrinka beberapa kali kehilangan momentum. Namun pengalaman panjang di level elite membuat petenis Swiss itu tidak panik.
Di set kedua, Wawrinka mulai menemukan ritme. Servisnya lebih stabil, pukulan backhand satu tangan yang menjadi ciri khasnya kembali mengalir tajam. Ia merebut set kedua 6-3 dan menyamakan kedudukan.
Set ketiga memperlihatkan duel ketat, namun Wawrinka tampil lebih sabar dalam reli panjang. Ia mengamankan break krusial dan menutup set dengan skor 6-4. Keunggulan dua set berbanding satu memberi angin segar, tetapi Djere belum menyerah.
Drama memuncak di set keempat. Saat tertinggal 2-4, Wawrinka justru menemukan energi terakhirnya. Ia mencuri break, memaksa tiebreak, lalu menguasai momen penentuan untuk menang 7-6(4).
Total waktu hampir dua jam pertarungan mengantar Wawrinka kembali merasakan kemenangan Grand Slam yang telah lama ia rindukan.
BACA JUGA: Servis Nyaris Sempurna! Jessica Pegula Libas Zakharova di Round 1 Australia Terbuka
Statistik Bicara: Servis Jadi Senjata Utama
Meski usia tak lagi muda, performa teknis Wawrinka tetap mengesankan. Berdasarkan data pertandingan, ia memenangkan 86 persen poin dari servis pertama dan 64 persen dari servis kedua.
Angka itu menunjukkan betapa pentingnya servis sebagai fondasi permainannya malam itu.
Dalam reli panjang sembilan pukulan atau lebih, Wawrinka juga unggul dengan memenangi 58 persen poin. Ketika kakinya harus bekerja ekstra menjangkau sudut lapangan, ia memilih bermain cerdas dengan slice bertahan dan variasi tempo.
Total 18 peluang break ia peroleh sepanjang pertandingan, dan tiga di antaranya berhasil dikonversi. Salah satu momen krusial terjadi di set keempat ketika ia melakukan break balik setelah tertinggal 2-4, mengubah arah pertandingan secara dramatis.
“Saya banyak bekerja memperbaiki servis agar bisa mendapat poin gratis. Hari ini itu sangat membantu,” ujar Wawrinka.
Kemenangan Pertama Sejak Wimbledon 2024, Momen yang Lama Dinanti
Bagi Wawrinka, kemenangan ini lebih dari sekadar angka di papan skor. Ia datang ke Melbourne dengan catatan empat kekalahan beruntun di turnamen mayor. Terakhir kali ia merasakan kemenangan di Grand Slam terjadi di Wimbledon 2024.
Kini, di awal musim yang ia sebut sebagai tahun terakhir, Wawrinka kembali membuka lembaran manis. Ia menjadi petenis berusia 40 tahun yang masih mampu bersaing di level tertinggi, sebuah pencapaian yang jarang terjadi di era tenis modern.
Sebagai mantan peringkat tiga dunia dan peraih tiga gelar Grand Slam (Australian Open 2014, Roland Garros 2015, US Open 2016), Wawrinka sudah menuliskan sejarah panjang. Namun malam di Kia Arena menambah satu bab emosional yang tak kalah berharga.
Menatap Laga Berikutnya: Tantangan Masih Panjang
Perjalanan Wawrinka belum selesai. Di putaran kedua, ia akan menghadapi pemenang laga antara unggulan ke-17 asal Ceko Jiri Lehecka dan petenis muda Prancis Arthur Gea.
Lawan berikutnya jelas lebih berat, dengan stamina dan kecepatan yang menjadi tantangan besar bagi tubuh berusia 40 tahun.
Namun bagi Wawrinka, kesempatan bermain satu laga tambahan di Australian Open sudah menjadi hadiah tersendiri.
“Saya ingin menikmati, tapi saya juga petarung. Saya akan selalu berjuang,” katanya.
Ini adalah penampilan ke-20 Wawrinka di Australian Open dan start ke-75 sepanjang kariernya di Grand Slam. Angka-angka itu menegaskan betapa panjang dan konsistennya perjalanan sang legenda.
BACA JUGA: Bangkit dengan Keyakinan Baru, Daniil Medvedev Melenggang Ke Putaran 2 Australian Open 2026
Refleksi Seorang Legenda: Bertahan karena Cinta
Kisah Stan Wawrinka di Melbourne adalah tentang keteguhan hati. Di saat banyak rekan seangkatannya telah pensiun, ia masih berdiri di lapangan, memeras sisa tenaga demi satu kemenangan lagi.
Stan Wawrinka Catat Kemenangan Perdananya di Australian Open bukan hanya judul berita, tetapi simbol bahwa olahraga bukan sekadar soal usia dan peringkat.
Ini tentang cinta pada permainan, keberanian menghadapi waktu, dan kemauan untuk terus berjuang sampai titik akhir.
Dan di tengah sorak penonton Kia Arena, Wawrinka membuktikan satu hal: legenda sejati selalu menemukan cara untuk bangkit, bahkan di saat yang paling sunyi.






