Jannik Sinner nyaris tumbang di bawah panas ekstrem Melbourne. Tubuhnya dilanda kram, ritme servis terganggu, dan lawan mudanya tampil tanpa rasa takut.
Namun di tengah ujian terberat dalam misi mempertahankan gelar, petenis nomor dua dunia itu kembali menunjukkan mengapa ia adalah juara Grand Slam.
Dalam laga penuh drama di Rod Laver Arena, Sabtu waktu setempat, Sinner akhirnya menundukkan Eliot Spizzirri dengan skor 4-6, 6-3, 6-4, 6-4 untuk memastikan tiket ke babak keempat Australian Open 2026.
Kemenangan ini tidak hanya tentang angka di papan skor, tetapi tentang ketahanan fisik, kecerdasan taktik, dan ketenangan saat segalanya nyaris lepas dari genggaman.
Ujian Terbesar dalam Misi Pertahankan Gelar
Sebagai juara bertahan, Sinner datang ke Melbourne dengan tekanan besar. Namun, sedikit yang menyangka ujian terberatnya di pekan pertama justru datang dari seorang debutan di undian utama Australian Open.
Spizzirri, mantan bintang tenis kampus Universitas Texas, menjalani laga Grand Slam putra ketiganya sepanjang karier. Ini adalah penampilan pertamanya di babak ketiga turnamen major, dan untuk pertama kalinya pula ia menghadapi pemain Top 10 dunia.
Alih-alih tampil gugup, Spizzirri justru bermain lepas. Ia menantang Sinner dari baseline, memukul keras, dan berani mengambil risiko sejak set pertama.
Set pembuka menjadi milik Spizzirri. Ia mematahkan servis Sinner dan mengamankan set 6-4, memancing kejutan besar di Rod Laver Arena.
Kram Datang, Atap Ditutup, Momentum Berubah
Set kedua berjalan lebih stabil bagi Sinner. Ia mulai menemukan ritme, memperbaiki persentase servis, dan merebut set 6-3. Namun drama sesungguhnya baru dimulai di set ketiga.
Dalam kondisi skor imbang satu set sama, Sinner tiba-tiba menunjukkan tanda-tanda fisik bermasalah. Kram menyerang kakinya. Ia terlihat kesulitan mendorong tubuh untuk servis, langkahnya melambat, dan bahasa tubuhnya berubah drastis.
Spizzirri memanfaatkan situasi itu dengan sempurna. Ia mematahkan servis Sinner dan unggul 3-1 di set ketiga. Pada titik ini, ancaman tersingkir bagi sang juara bertahan terasa sangat nyata.
Situasi semakin pelik ketika skala panas Australian Open Heat Stress Scale mencapai level 5. Wasit memutuskan menghentikan pertandingan sementara untuk menutup atap Rod Laver Arena.
Istirahat singkat kurang dari 10 menit itu justru menjadi titik balik pertandingan.
Bangkit dari Tepi Kekalahan
Ketika permainan dilanjutkan, Sinner tampil dengan energi berbeda. Meski kram belum sepenuhnya hilang, ia mulai bermain lebih sabar, mengatur tempo, dan memilih momen menyerang dengan lebih cermat.
Perlahan, ia merebut kembali kendali set ketiga. Spizzirri, yang sebelumnya unggul, mulai kehilangan ketajaman di momen krusial. Kesalahan kecil di break point menjadi mahal.
Set ketiga akhirnya jatuh ke tangan Sinner dengan skor 6-4, sebuah set yang mungkin menjadi penentu nasib pertandingan.
Tiga set pertama saja sudah menghabiskan waktu dua jam 54 menit. Menurut data resmi, Sinner melakukan 46 unforced error dalam tiga set awal, angka yang menunjukkan betapa beratnya tekanan yang ia hadapi.
Namun perbedaan besar terlihat pada efektivitas di break point.
Statistik Kunci: Efisiensi Menentukan Segalanya
Sepanjang pertandingan, Spizzirri mendapatkan 16 peluang break point. Dari jumlah itu, ia hanya mampu mengonversi enam.
Sebaliknya, Sinner jauh lebih klinis. Ia memenangkan delapan dari 11 break point yang ia miliki.
Di set ketiga saja, Spizzirri hanya berhasil memanfaatkan satu dari enam peluang break. Kegagalan-kegagalan inilah yang perlahan menggerogoti peluang kejutan.
Ketika duel memasuki set keempat, kedua pemain mendapat jeda 10 menit sesuai aturan panas turnamen. Setelah jeda, Spizzirri kembali menunjukkan perlawanan sengit.
Ia kembali mematahkan servis Sinner dan unggul 3-1 di set keempat.
Untuk kedua kalinya, Sinner berada di posisi tertekan.
Kelas Juara Bicara di Set Keempat
Di sinilah perbedaan pengalaman terlihat jelas. Sinner tidak panik. Ia memperpendek poin, lebih sering memukul ke arah backhand Spizzirri, dan menaikkan kualitas servis pertamanya.
Satu demi satu gim direbut kembali. Sinner menyamakan kedudukan, lalu mematahkan servis Spizzirri di saat yang paling menentukan.
Set keempat akhirnya ditutup 6-4, mengakhiri duel empat set yang berlangsung selama tiga jam 45 menit.
Ketika poin terakhir dimenangkan, Sinner mengangkat tangan ke udara, bukan dengan ekspresi euforia berlebihan, melainkan dengan wajah lega. Ia tahu, ini bukan kemenangan biasa.
Spizzirri Tinggalkan Kesan Mendalam
Meski tersingkir, Eliot Spizzirri meninggalkan kesan yang sangat kuat. Dalam debutnya di babak ketiga Grand Slam dan laga pertama melawan pemain Top 10, ia tampil tanpa rasa takut.
Ia bertahan dalam reli panjang, berani menyerang, dan beberapa kali membuat Sinner berada di ujung tanduk. Banyak pengamat menilai, jika efektivitas break point-nya sedikit lebih baik, hasil laga ini bisa sangat berbeda.
Bagi Spizzirri, ini mungkin kekalahan, tetapi juga awal dari pengenalan dirinya di level tertinggi tenis dunia.
Menanti Duel Sesama Italia di Babak 16 Besar
Dengan kemenangan ini, Jannik Sinner Tundukkan Spizzirri di Round 3 dan melaju ke babak keempat untuk menghadapi kompatriotnya, Luciano Darderi.
Pertemuan ini akan menjadi duel perdana mereka dalam catatan resmi Lexus ATP Head2Head. Sebuah laga yang sarat nuansa nasionalisme dan gengsi antar sesama Italia.
Bagi Sinner, tantangan berikutnya tidak kalah berat. Kondisi fisik menjadi perhatian utama setelah duel panjang dan kram yang sempat mengganggu.
Namun satu hal jelas: jika ia mampu melewati badai seperti ini, kepercayaan dirinya untuk melangkah lebih jauh di Australian Open 2026 justru semakin besar.
Kemenangan Mental Seorang Juara Bertahan
Laga melawan Spizzirri bukan tentang permainan indah, melainkan tentang bertahan hidup. Tentang bagaimana seorang juara bertahan mengatasi panas, kram, tekanan, dan lawan yang bermain tanpa beban.
Sinner tidak menang dengan mudah. Ia menang dengan kepala dingin.
Dan di turnamen sebesar Australian Open, kemenangan seperti inilah yang sering menjadi fondasi perjalanan menuju gelar.
Perburuan trofi masih panjang. Tapi setelah malam penuh drama ini, satu pesan sudah jelas: Jannik Sinner masih sangat sulit untuk ditumbangkan di Melbourne.






