Francisco Cerundolo akhirnya menuntaskan rasa penasarannya di Buenos Aires dengan merebut gelar Argentina Open 2026.
Petenis tuan rumah itu tampil dominan saat mengalahkan unggulan kedua Luciano Darderi dengan skor 6-4, 6-2 pada partai final ATP 250 yang digelar di lapangan tanah liat tersebut.
Kemenangan ini menjadi momen emosional bagi Cerundolo setelah dua kali gagal di final edisi 2021 dan 2025.
Di hadapan publik sendiri, ia memastikan trofi keempat sepanjang karier ATP Tour dan yang pertama di tanah Argentina.
Francisco Cerundolo Akhiri Kutukan Final di Buenos Aires
Dalam laga berdurasi 97 menit, Francisco Cerundolo menunjukkan ketenangan dan agresivitas tinggi.
Set pertama berlangsung ketat dengan banyak peluang break point tercipta. Namun Cerundolo tampil solid saat momen krusial, termasuk menyelamatkan lima break point di set pembuka.
Secara keseluruhan, ia menyelamatkan enam dari tujuh break point yang dihadapi berdasarkan statistik resmi ATP. Permainan agresifnya membuat Darderi kesulitan mengembangkan strategi.
“Ini mungkin momen terbaik dalam karier saya sejauh ini,” ujar Cerundolo usai pertandingan.
Ia mengaku sangat ingin menang di kota kelahirannya, di depan keluarga, teman, dan para pendukung Argentina.
Gelar ini terasa semakin spesial karena diraih di rumah sendiri, menghapus memori pahit dua kekalahan sebelumnya di partai puncak.
Statistik Impresif di Lapangan Tanah Liat
Cerundolo saat ini menempati peringkat 19 dunia dalam PIF ATP Rankings. Sejak awal musim 2024, ia telah mengoleksi 46 kemenangan di lapangan tanah liat—terbanyak di ATP Tour dalam periode tersebut.
Catatan itu membuatnya unggul dua kemenangan atas Darderi yang berada di posisi kedua dalam daftar kemenangan clay terbanyak sejak 2024.
Keberhasilan ini juga menjadikan Cerundolo sebagai juara tuan rumah ketujuh dalam sejarah Argentina Open yang pertama kali digelar pada 2001.
Ia kini semakin mempertegas statusnya sebagai spesialis clay court modern dari Amerika Selatan.
Duel Ketat Lawan Luciano Darderi
Di sisi lain, Luciano Darderi sebenarnya tampil kompetitif, terutama di awal pertandingan.
Petenis Italia berusia 24 tahun itu bahkan memiliki sejumlah peluang break, namun gagal memaksimalkannya.
Dalam rekor pertemuan langsung (Head-to-Head), Cerundolo kini unggul 3-2 atas Darderi. Meski kalah di final, Darderi tetap membawa pulang pencapaian penting. Ia dipastikan naik ke peringkat tertinggi sepanjang kariernya, yakni posisi 21 dunia.
Final ini juga mempertemukan dua pemain yang sama-sama memiliki ikatan dengan Argentina.
Darderi diketahui lahir dan menghabiskan masa kecilnya di Argentina sebelum membela Italia di level profesional.
Namun di laga penentuan, Cerundolo tampil lebih klinis dan konsisten dalam setiap reli panjang.
Permainan Agresif Jadi Kunci Kemenangan
Salah satu kunci kemenangan Cerundolo adalah keberaniannya mengambil inisiatif lebih dulu. Ia tidak memberi ruang bagi Darderi untuk mendikte tempo permainan.
“Saya bermain sangat agresif dan tidak membiarkannya mengontrol poin. Ini final, semua orang ingin menang. Saya bertarung untuk setiap poin,” ujar Cerundolo.
Strategi tersebut terbukti efektif. Ia mampu menjaga tekanan sejak baseline dan memanfaatkan setiap kesalahan lawan.
Selain kekuatan pukulan forehand khasnya, pergerakan di lapangan tanah liat juga menjadi faktor pembeda. Cerundolo tampil disiplin dalam transisi bertahan ke menyerang.
BACA JUGA: Alcaraz vs Sinner Berpotensi Duel di Final, Inilah Hasil Drawing Qatar ExxonMobil Open 2026
Momentum Penting Menuju Musim Clay Eropa
Gelar di Buenos Aires menjadi modal berharga bagi Cerundolo menghadapi rangkaian turnamen tanah liat berikutnya, termasuk Masters 1000 di Eropa dan Roland Garros.
Kepercayaan diri yang meningkat setelah menjuarai turnamen di kampung halaman dapat menjadi dorongan mental besar dalam persaingan ATP musim ini.
Dengan performa konsisten di clay, bukan tidak mungkin Cerundolo akan kembali menembus babak akhir di turnamen besar mendatang.
Kemenangan emosional ini bukan sekadar tambahan trofi, tetapi juga simbol kebangkitan dan konsistensi.
Setelah beberapa kali gagal di momen krusial, Cerundolo akhirnya berdiri sebagai juara di depan publiknya sendiri.
Argentina kini memiliki pahlawan baru di lapangan tanah liat, dan dunia tenis kembali mendapat sinyal bahwa kekuatan Amerika Selatan tetap menjadi perhitungan.






