Petenis muda Amerika Serikat, Ben Shelton menunjukkan mental baja saat meraih gelar pertama tahun ini di Final Dallas Open 2026.
Shelaton yang berusia 23 tahun itu menyelamatkan tiga championship point sebelum akhirnya menundukkan Taylor Fritz dengan skor dramatis 3-6, 6-3, 7-5 di partai final ATP 500.
Kemenangan ini menjadi gelar pertama Shelton musim ini sekaligus trofi indoor perdana sepanjang kariernya.
Ia juga menambah koleksi menjadi empat gelar ATP Tour dan memastikan diri sebagai salah satu rising star paling berbahaya di sirkuit.
Ben Shelton Tampil Dramatis di Final Dallas Open 2026
Dalam laga berdurasi 1 jam 51 menit, Ben Shelton tampil luar biasa di momen-momen krusial.
Setelah tertinggal satu set dan kehilangan momentum di set ketiga, ia berada di ambang kekalahan saat Fritz memperoleh tiga championship point pada gim ke-10 set penentuan.
Namun Shelton menolak menyerah.
BACA JUGA: Francisco Cerundolo Juara Argentina Open 2026, Akhiri Kutukan Final di Buenos Aires
Dengan servis keras dan keberanian bermain agresif, ia menyelamatkan ketiga peluang emas tersebut.
Setelah gim krusial itu, Shelton hanya kehilangan tiga poin lagi hingga menutup pertandingan dengan kemenangan sensasional.
“Rasanya luar biasa. Saya butuh sesuatu yang supranatural untuk bisa memenangi turnamen ini dengan semua tekanan yang saya alami,” ujar Shelton seusai laga. Ia mengaku bersyukur bisa melewati lima pertandingan berat di Dallas, termasuk empat duel tiga set.
Mentalitas Juara dan Statistik Menggila
Keberhasilan Shelton di Dallas tidak datang secara instan. Sepanjang turnamen, ia harus melalui empat pertandingan yang ditentukan di set ketiga.
Sejak awal 2025, Shelton mencatat rekor impresif 11-4 dalam pertandingan tiga set.
Bahkan sembilan di antaranya diraih setelah kalah di set pertama. Statistik ini menunjukkan daya juang dan kondisi fisik yang prima.
“Begitu saya dapat satu set, saya merasa sangat percaya diri. Saya mulai menemukan ritme dan bermain lebih lepas,” kata Shelton.
Kebugaran fisik menjadi salah satu kunci penting. Dengan stamina terjaga, ia mampu mempertahankan intensitas hingga poin-poin terakhir, bahkan saat tekanan mencapai puncaknya.
Duel Panas Lawan Taylor Fritz
Partai final mempertemukan dua unggulan teratas turnamen. Taylor Fritz, yang merupakan petenis nomor satu Amerika Serikat saat ini, tampil solid sejak awal pertandingan.
Fritz merebut set pertama 6-3 dengan permainan agresif dari baseline. Namun Shelton membalas di set kedua, memanfaatkan servis keras dan variasi pukulan untuk menyamakan kedudukan.
Set ketiga menjadi klimaks duel penuh tensi. Shelton sempat unggul break, tetapi kehilangan momentum sebelum akhirnya bangkit saat menghadapi tiga championship point.
Meski kalah, Fritz tetap mencatat pencapaian penting dengan mencapai final ke-20 sepanjang kariernya di level tur.
Ia selanjutnya dijadwalkan tampil sebagai unggulan teratas di turnamen ATP 250 Delray Beach.
Dalam seremoni penyerahan trofi, Fritz mengakui keunggulan lawannya di momen penting. Ia menyebut pertandingan tersebut luar biasa meski berakhir pahit baginya.
Rekor Head-to-Head dan Momentum Besar
Kemenangan di Dallas membuat Shelton unggul 2-1 dalam rekor pertemuan melawan Fritz. Lebih dari itu, trofi ini memperkuat reputasinya sebagai pemain bermental kuat dalam laga besar.
Shelton dikenal dengan gaya bermain eksplosif: servis kencang, forehand agresif, serta keberanian mengambil risiko di poin penting. Kombinasi tersebut terbukti efektif di lapangan keras indoor Dallas.
Selain menjadi gelar ATP 500 keduanya, kemenangan ini juga memberi suntikan kepercayaan diri besar jelang rangkaian turnamen berikutnya.
Era Baru Petenis Muda Amerika?
Keberhasilan Shelton semakin mempertegas kebangkitan generasi muda tenis Amerika. Di usia 23 tahun, ia telah mengoleksi empat gelar ATP dan terus menunjukkan perkembangan signifikan dalam konsistensi permainan.
Dengan mentalitas petarung dan fisik prima, Shelton berpotensi menjadi pesaing serius di turnamen Masters 1000 hingga Grand Slam musim ini.
Jika mampu menjaga performa seperti di Dallas, bukan tidak mungkin namanya akan semakin sering menghiasi babak akhir turnamen besar.
Gelar Dallas bukan sekadar trofi tambahan, melainkan simbol kematangan Shelton dalam menghadapi tekanan.
Dari tiga championship point yang nyaris mengubur mimpinya, ia justru bangkit dan mengubah arah pertandingan.
Mental baja, stamina kuat, dan keberanian di momen besar, kombinasi itu membuat Ben Shelton layak disebut sebagai salah satu bintang paling bersinar di awal musim 2026.






