Alex de Minaur akhirnya menuntaskan penantian panjangnya di final Rotterdam Open 2026.
Unggulan teratas asal Australia itu tampil dominan saat menumbangkan Felix Auger-Aliassime dengan skor 6-3, 6-2 di partai final ATP 500, Minggu waktu setempat.
Kemenangan ini terasa spesial karena menjadi gelar indoor pertama dalam kariernya sekaligus menghapus dua kegagalan sebelumnya di final Rotterdam.
Dalam dua edisi terdahulu, De Minaur selalu gagal di partai puncak. Namun kali ini, ia tampil tajam, disiplin, dan hampir tanpa cela.
Alex de Minaur Sempurna di Final Rotterdam Open 2026
Dalam laga berdurasi 78 menit, Alex de Minaur menunjukkan performa paling solid sepanjang pekan. Berdasarkan statistik resmi ATP, ia tidak menghadapi satu pun break point selama pertandingan.
Set pertama berjalan ketat hingga gim keenam. Momentum berubah ketika De Minaur memukul dua winner krusial untuk merebut break penentu. Itu menjadi kali pertama servis Auger-Aliassime berhasil ditembus sejak turnamen Montpellier pekan sebelumnya.
BACA JUGA: Francisco Cerundolo Juara Argentina Open 2026, Akhiri Kutukan Final di Buenos Aires
Memasuki set kedua, De Minaur semakin agresif. Ia kerap masuk ke dalam baseline dan mendikte reli. Break kembali tercipta di gim kelima, memperbesar tekanan pada lawannya.
Di tengah set kedua, Auger-Aliassime sempat meminta medical timeout di luar lapangan.
Saat kembali, pergerakannya terlihat kurang eksplosif. De Minaur tak menyia-nyiakan kesempatan dan menutup laga dengan penuh kontrol.
“Third time lucky,” ujar De Minaur seusai pertandingan, merujuk pada kegagalannya di dua final Rotterdam sebelumnya. Ia mengaku sangat puas bisa akhirnya mengangkat trofi di kota yang selalu memberinya kepercayaan diri.
Auger-Aliassime Gagal Lanjutkan Tren Positif
Di sisi lain, Felix Auger-Aliassime datang ke Rotterdam dengan modal delapan kemenangan beruntun setelah menjadi juara di Montpellier. Ia memburu gelar indoor kesembilan dalam kariernya.
Namun konsistensi De Minaur di level ATP 500 terbukti terlalu kuat. Meski sempat memberikan perlawanan di awal set pertama, Auger-Aliassime kesulitan menemukan ritme terbaiknya setelah kehilangan servis.
Dalam seremoni penyerahan trofi, petenis Kanada itu mengakui keunggulan lawannya dan memberi selamat atas keberhasilan De Minaur yang akhirnya juara di Rotterdam pada percobaan ketiga.
Hasil ini juga memperkecil defisit rekor pertemuan De Minaur melawan Auger-Aliassime menjadi 2-3 dalam catatan head-to-head mereka.
Dominasi di Level ATP 500
Gelar Rotterdam semakin menegaskan reputasi De Minaur sebagai salah satu pemain paling konsisten di turnamen ATP 500 dalam beberapa musim terakhir.
Sejak awal 2023, ia mencatat 53 kemenangan di level ATP 500 dengan empat gelar. Catatan tersebut menempatkannya di atas sejumlah nama besar seperti:
- Carlos Alcaraz – 44 kemenangan (6 gelar)
- Jannik Sinner – 43 kemenangan (6 gelar)
- Alexander Zverev – 43 kemenangan (2 gelar)
Statistik ini menunjukkan konsistensi De Minaur dalam menjaga performa di turnamen level menengah ke atas, terutama di permukaan keras indoor.
Lonjakan Peringkat dan Momentum Baru
Kemenangan ini juga berdampak signifikan pada peringkat dunia. Berkat tambahan poin dari gelar Rotterdam, De Minaur naik dua posisi ke peringkat enam dunia dalam PIF ATP Live Rankings.
Posisi tersebut semakin mengukuhkan statusnya sebagai salah satu pemain elite ATP musim ini.
Dengan performa solid di awal tahun, De Minaur berpotensi menjadi ancaman serius di turnamen Masters 1000 dan Grand Slam mendatang.
Selain kualitas teknik dan stamina luar biasa, mentalitas bertanding menjadi faktor pembeda.
Ia menunjukkan kedewasaan dalam membaca situasi dan menjaga fokus di laga besar.
Gelar yang Mengubah Narasi
Setelah dua kali gagal di final yang sama, banyak yang meragukan apakah Rotterdam akan kembali menjadi cerita pahit bagi Alex De Minaur. Namun edisi 2026 justru menjadi momen pembalikan narasi.
Gelar ini bukan hanya soal trofi, tetapi juga bukti ketekunan dan konsistensi. Dari tidak menghadapi satu pun break point hingga tampil dominan sepanjang final, De Minaur menunjukkan versi terbaiknya.
Kini, dengan gelar indoor perdana dan posisi enam dunia, ia memasuki fase baru dalam kariernya, fase di mana ia bukan lagi sekadar penantang, melainkan kandidat juara di setiap turnamen besar.






