Hasil Final ATP Shanghai Masters 2025 menghadirkan kisah yang layak disebut dongeng modern.
Petenis asal Monako, Valentin Vacherot, menciptakan kejutan terbesar dalam sejarah turnamen dengan menundukkan sepupunya sendiri, Arthur Rinderknech.
Vacherot menang lewat pertarungan tiga set 4-6, 6-3, 6-3 di Stadion Utama Qizhong Forest Sports City Arena, Minggu (12/10).
Kemenangan tersebut tidak hanya menjadi gelar perdana Vacherot di level ATP, tetapi juga menjadikannya juara ATP Masters 1000 dengan peringkat terendah sepanjang sejarah, yaitu peringkat 204 dunia.
Capaian luar biasa itu menandai momen bersejarah bagi Monako yang untuk pertama kalinya memiliki juara di level tertinggi tenis dunia.
Perjalanan Luar Biasa Menuju Final Shanghai Masters
Sebelum mencatat namanya dalam hasil final ATP Shanghai Masters 2025, perjalanan Vacherot sama sekali tak mudah.
Ia memulai langkahnya dari babak kualifikasi dan bahkan datang ke Shanghai hanya dengan satu kemenangan di level ATP Tour sepanjang kariernya, diraih di Monte Carlo awal tahun ini.
Namun, dua pekan penuh perjuangan itu mengubah segalanya. Vacherot menyingkirkan sederet lawan tangguh seperti Laslo Djere, Alexander Bublik, Tomas Machac, dan Tallon Griekspoor.
Dengan kemenangan-kemanangan yang ia raih ini, menjadikannya petenis Monako pertama yang mencapai perempat final Masters 1000.
Tak berhenti di situ, kejutan terbesar datang ketika ia mengalahkan Holger Rune dan legenda tenis dunia Novak Djokovic, yang merupakan empat kali juara di Shanghai.
Dua kemenangan inilah yang membuka jalan menuju final bersejarah melawan Rinderknech.
Duel Sepupu di Laga Puncak
Partai puncak Hasil Final ATP Shanghai Masters 2025 mempertemukan dua sepupu yang sama-sama berjuang dari akar rumput dunia tenis.
Vacherot (26 tahun) dan Rinderknech (30 tahun) sebelumnya pernah bermain bersama di tim universitas Texas A&M pada 2018.
Namun kali ini, mereka berdiri di sisi berlawanan dari lapangan untuk memperebutkan salah satu gelar paling prestisius di kalender ATP.
Di set pertama, Rinderknech tampil dominan dengan permainan agresif dan statistik yang nyaris sempurna.
Berdasarkan data Infosys ATP Stats, ia mencetak 12 winner dengan hanya dua kesalahan sendiri (unforced error).
Strateginya menekan sejak awal membuahkan hasil ketika ia merebut break di gim ketiga dan menutup set pertama 6-4.
Namun, momentum berubah di set kedua. Vacherot mulai tampil lebih percaya diri dengan mengatur tempo permainan dan memaksa Rinderknech mundur dari baseline.
Dari kedudukan 3-3, Vacherot berhasil mematahkan servis sepupunya dua kali untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1 dalam set.
Pada set ketiga, sang petenis Monako tampil semakin berani. Dengan pukulan keras dan penuh risiko, ia terus menekan hingga akhirnya menutup pertandingan dalam waktu dua jam 11 menit.
Begitu bola terakhir jatuh di sisi lapangan Rinderknech, Vacherot menatap ke langit Shanghai, sadar bahwa dirinya baru saja menulis sejarah.
Catatan Bersejarah Bagi Vacherot dan Monako
Hasil luar biasa di Final ATP Shanghai Masters 2025 ini menempatkan Valentin Vacherot dalam buku rekor ATP. Ia menjadi:
Petenis dengan peringkat terendah yang menjuarai Masters 1000 (No. 204 dunia).
Kualifikasian ketiga sepanjang sejarah yang mampu menjuarai Masters 1000, setelah Roberto Carretero (Hamburg 1996) dan Albert Portas (Hamburg 2001).
Petenis pertama asal Monako yang memenangi gelar ATP Tour di Era Terbuka.
Selain itu, Vacherot juga menjadi juara baru kedelapan ATP musim 2025, dan hanya petenis kelima yang meraih gelar perdananya langsung di level Masters 1000, prestasi yang sebelumnya dicapai Jakub Mensik di Miami tahun ini.
Kemenangan ini juga mengangkat posisi Vacherot 164 peringkat ke No. 40 dunia dalam PIF ATP Live Rankings, dan untuk pertama kalinya dalam kariernya, ia akan menembus Top 100 ATP mulai pekan depan.
Ia juga berhak atas hadiah uang sebesar USD 1,124,380, nyaris dua kali lipat dari total pendapatannya sepanjang karier sebelum turnamen ini.
Hubungan Keluarga di Tengah Kompetisi
Meskipun bersaing ketat di lapangan, hubungan keluarga antara kedua finalis ini tetap hangat.
Sepanjang turnamen, Rinderknech dan Vacherot saling memberi dukungan, baik lewat pesan keluarga maupun hadir langsung di tribun ketika yang lain bertanding.
Namun pada laga final, ikatan darah itu untuk sementara dilupakan.
Setelah pertandingan berakhir, keduanya berpelukan hangat di net, menandai momen yang tak hanya emosional bagi keluarga mereka, tetapi juga mengharukan bagi seluruh penonton Shanghai.
Rinderknech Tetap Bersinar
Walaupun gagal merebut gelar, Arthur Rinderknech tetap pulang dengan kepala tegak. Ia naik 26 peringkat ke posisi No. 28 dunia, peringkat tertinggi dalam kariernya.
Di semifinal, ia bahkan mencatat kemenangan ke-100 di level ATP, dan menjadi finalis Masters 1000 kesembilan asal Prancis sepanjang sejarah.
Pertemuan dua sepupu ini juga tercatat sebagai final Masters 1000 ketiga dalam sejarah yang mempertemukan dua petenis non-unggulan.
Dan ini sebuah bukti bahwa semangat, kerja keras, dan determinasi masih bisa menembus dominasi para bintang top dunia seperti Djokovic, Alcaraz, atau Sinner.
BACA JUGA: Iga Swiatek Tersungkur di WTA Wuhan Open 2025, Jasmine Paolini Lolos ke Semifinal
Kisah Dongeng dari Shanghai
Kemenangan Vacherot di hasil final ATP Shanghai Masters 2025 bukan sekadar gelar, melainkan simbol dari mimpi yang menjadi kenyataan.
Dari petenis peringkat 204 dunia yang nyaris tak dikenal, ia kini menempatkan Monako di peta tenis dunia.
“Rasanya seperti mimpi yang menjadi nyata,” ujar Vacherot usai kemenangan bersejarahnya. “Bisa bermain melawan sepupu saya di final dan mengangkat trofi Masters 1000, ini adalah momen yang akan saya kenang seumur hidup.”
Bagi banyak penggemar tenis, kisah ini menjadi pengingat bahwa dalam olahraga, keajaiban masih mungkin terjadi, bahkan di tengah kerasnya persaingan dunia ATP.






