Kabar Jannik Sinner terhenti di Doha langsung menyita perhatian publik tenis dunia.
Kekalahan memang jarang dialami petenis Italia tersebut dalam beberapa tahun terakhir, sehingga setiap hasil negatif darinya selalu menjadi sorotan besar.
Pada Kamis (19/2/2026), Jannik Sinner harus mengakui keunggulan Jakub Mensik di perempat final Qatar ExxonMobil Open.
Sinner tumbang dalam duel tiga set dengan skor 6-7(3), 6-2, 3-6 dalam pertandingan yang berlangsung ketat.
Hasil ini datang tak lama setelah ia kalah di semifinal Australian Open dari Novak Djokovic, membuat dua turnamen terakhir menjadi momen langka ketika performa Sinner sedikit tersendat.
Jannik Sinner Terhenti di Doha, Alarm atau Sekadar Anomali?
Meski Jannik Sinner Terhenti di Doha, kekalahan ini sejatinya tidak serta-merta menandakan penurunan performa.
Justru, jika melihat data statistik, konsistensi Sinner masih berada di level elite dunia.
Menurut Infosys ATP Win/Loss Index, sejak awal musim 2024 Sinner membukukan rekor luar biasa 138 kemenangan dan hanya 14 kekalahan.
Angka tersebut setara dengan persentase kemenangan fantastis sebesar 90,8 persen.
Sebagai perbandingan, rekor persentase kemenangan terbaik sepanjang sejarah tur level atas masih dipegang Novak Djokovic dengan 83,3 persen.
Fakta ini menunjukkan betapa dominannya Sinner dalam periode terakhir.
Kekalahan beruntun sebelum partai final juga merupakan kejadian langka bagi petenis berusia 22 tahun itu.
Terakhir kali ia mengalami situasi serupa terjadi pada 2024, tepatnya di Wimbledon dan ATP Masters 1000 Montreal, keduanya juga berakhir di perempat final.
Mensik Tampil Berani dan Efektif
Dalam laga di Doha, Mensik menunjukkan permainan berani sejak awal. Petenis muda Ceko itu mampu menahan tekanan dan memanfaatkan momentum penting, terutama di set pembuka yang ditentukan lewat tie-break.
Sinner sempat bangkit meyakinkan pada set kedua dengan kemenangan 6-2. Namun pada set penentuan, Mensik kembali meningkatkan level permainan dan berhasil mengunci kemenangan 6-3.
Hasil ini menjadi salah satu kemenangan terbesar dalam karier Mensik sejauh ini. Ia dijadwalkan menghadapi Arthur Fils pada semifinal untuk memperebutkan tiket ke final Doha.
BACA JUGA: Carlos Alcaraz Bangkit dan Mengalahkan Karen Khachanov di Doha, Sempurna 10-0 Musim 2026
Konsistensi Sinner Masih Sulit Ditandingi
Meski tersingkir lebih cepat, catatan performa Sinner dalam 18 bulan terakhir tetap menunjukkan dominasi yang luar biasa. Sejak kekalahan di Montreal 2024, ia telah tampil di 19 turnamen dan berhasil mencapai final dalam 15 di antaranya.
Dari jumlah tersebut, Sinner sukses mengangkat 10 trofi juara, sebuah pencapaian yang menegaskan statusnya sebagai salah satu pemain paling stabil di ATP Tour saat ini.
Menariknya, lima kekalahan Sinner di partai final semuanya datang dari rival utamanya, Carlos Alcaraz.
Rivalitas keduanya memang menjadi salah satu cerita terbesar dalam tenis putra modern.
Perspektif Lebih Luas untuk Musim 2026
Jika melihat gambaran besar, kekalahan di Doha lebih tepat sebagai anomali kecil daripada sinyal kemunduran.
Dengan rasio kemenangan di atas 90 persen sejak 2024, Sinner masih berada di jalur yang sangat impresif.
BACA JUGA: Bangkit dari Ketertinggalan, Svitolina Capai Semifinal Kelima di Dubai Usai Bangkit Dramatis
Selain itu, jadwal musim masih panjang dan peluangnya untuk menambah gelar pada 2026 tetap terbuka lebar.
Dengan usia yang masih muda dan performa yang relatif stabil, Sinner nampaknya akan tetap menjadi ancaman utama di turnamen-turnamen besar berikutnya.
Bagi Mensik, kemenangan ini bisa menjadi titik lonjakan penting dalam kariernya.
Sementara bagi Sinner, hasil di Doha kemungkinan hanya akan menjadi bahan evaluasi kecil sebelum kembali bangkit di turnamen selanjutnya.






