Legenda tenis Swiss Roger Federer kembali menginjakkan kaki di Dubai, kota yang begitu identik dengan perjalanan gemilangnya.
Kehadiran Roger Federer di ajang Dubai Duty Free Tennis Championships pada Senin lalu langsung memantik nostalgia para penggemar tenis dunia.
Turnamen hard-court tersebut memang menjadi salah satu panggung paling bersejarah dalam karier sang maestro.
Tidak ada pemain yang meninggalkan jejak sedalam Federer di Dubai. Perpaduan elegansi permainan dan konsistensi luar biasa membuatnya menjadikan kota gurun itu sebagai salah satu “rumah kedua” sepanjang karier profesionalnya.
Federer pertama kali mengangkat trofi di Dubai pada tahun 2003, musim yang menjadi titik balik menuju dominasinya di level tertinggi tenis dunia.
Dari situlah kisah panjang kesuksesannya di Timur Tengah dimulai.
Roger Federer dan Dominasi Panjang di Dubai
Kesuksesan Federer di Dubai bukan sekadar sekali lewat. Ia total mengoleksi delapan gelar di turnamen ini, rekor yang masih belum tersentuh hingga kini.
Sepanjang partisipasinya, mantan petenis nomor satu dunia tersebut membukukan catatan impresif 53 kemenangan dan hanya 6 kekalahan.
Dubai kerap menjadi barometer performa awal musim bagi Federer. Berkali-kali, keberhasilannya di turnamen ATP 500 ini menjadi pertanda bahwa ia akan menjalani musim besar di sirkuit ATP.
Keterikatan Federer dengan Dubai terlihat jelas dari konsistensi performanya lintas generasi.
Dari masa muda penuh ledakan hingga periode veteran sarat pengalaman, ia tetap mampu tampil kompetitif dan memenangi gelar.
Momen Bersejarah: Gelar ke-100 di Dubai
Salah satu bab paling emosional dalam karier Federer terjadi di Dubai pada 2019. Saat itu, ia menaklukkan Stefanos Tsitsipas di final untuk merebut gelar level tur ke-100 dalam kariernya.
Pencapaian tersebut menempatkannya sebagai pemain kedua di Era Terbuka yang mampu menembus tiga digit gelar.
Sebelumnya, hanya Jimmy Connors yang berhasil mencapai angka tersebut dengan 109 trofi. Setelah Federer, Novak Djokovic juga masuk klub elite dengan melampaui 100 gelar.
Gelar bersejarah itu semakin mempertegas status Federer sebagai salah satu pemain terbesar sepanjang masa.
BACA JUGA: Update Peringkat WTA Finals per 23 Februari, Pegula & Muchova Melonjak, Rybakina Masih Tak Tersentuh
Rekor Dunia No. 1 yang Sulit Disamai
Dominasi Federer tidak hanya terlihat dari jumlah gelar. Ia juga memegang rekor lama sebagai pemain dengan 310 pekan di peringkat No. 1 dunia, termasuk 237 pekan berturut-turut, sebuah pencapaian yang mencerminkan konsistensi luar biasa.
Menariknya, periode kejayaan tersebut beririsan dengan tiga gelarnya di Dubai.
Turnamen ini seolah menjadi miniatur perjalanan karier Federer: dimulai dari terobosan awal, berlanjut ke masa dominasi, hingga pencapaian bersejarah di penghujung karier.
Bagi Federer, Dubai bukan hanya lokasi kompetisi. Selama bertahun-tahun, ia kerap menjadikan kota ini sebagai basis latihan saat offseason.
Fasilitas kelas dunia dan cuaca hangat membuatnya nyaman mempersiapkan musim baru di sana.
Kenyamanan itu berbuah manis. Dari gelar pertamanya pada usia 21 tahun hingga trofi ke-100 pada usia 37 tahun, Dubai menjadi saksi perjalanan lintas generasi sang legenda.
Kedekatan emosional inilah yang membuat setiap kembalinya Federer ke Dubai selalu terasa spesial, baik bagi dirinya maupun para penggemar tenis.
Nostalgia di Edisi 2026
Pada kunjungan terbarunya, Federer hadir sebagai penonton dan menyaksikan rekan senegaranya, Stan Wawrinka, bertarung melawan Benjamin Hassan. Wawrinka sendiri merupakan juara edisi 2016.
Edisi 2026 juga diramaikan sejumlah mantan juara lain seperti Tsitsipas, Ugo Humbert, Medvedev, dan Rublev, menambah nuansa kompetitif sekaligus nostalgia.
Meski kini sudah pensiun dari kompetisi profesional, kehadiran Federer tetap menjadi magnet besar bagi turnamen ini.
Warisan yang ia tinggalkan di Dubai tampaknya akan terus menjadi kenangan dalam waktu lama.






