Australia Open 2026 kembali menghadirkan kisah kontras yang sama-sama memikat. Di satu sisi, seorang remaja Rusia menunjukkan kematangan luar biasa saat menghancurkan unggulan top dunia. Di sisi lain, petenis Italia harus melewati malam panjang penuh hujan, deuce, dan tekanan mental untuk tetap bertahan.
Dua nama itu kini resmi melaju ke babak ketiga. Mirra Andreeva dan Jasmine Paolini melaju ke R3 Australia Open 2026, masing-masing dengan cerita perjuangan yang sangat berbeda, namun sama-sama mencerminkan kualitas kelas dunia.
Delapan Gim Beruntun: Malam Sempurna Mirra Andreeva
Sejak bola pertama dipukul di Margaret Court Arena, ada firasat kuat bahwa ini adalah malam milik Mirra Andreeva.
Petenis berusia 18 tahun itu langsung menyapu delapan gim beruntun di awal pertandingan, sebuah awal brutal yang langsung mematikan perlawanan Maria Sakkari. Tanpa memberi kesempatan bernapas, Andreeva menutup set pertama dengan skor telak 6-0, sebuah “bagel” yang mencerminkan betapa timpangnya duel di fase awal.
Ini bukan sekadar kemenangan set. Ini adalah pernyataan.
Andreeva, unggulan No. 8 dan remaja dengan peringkat tertinggi di WTA saat ini, tampil nyaris tanpa cela. Ia mengatur arah bola, memaksa Sakkari terus bergerak, dan memenangi reli-reli panjang dengan ketenangan yang jauh melampaui usianya.
Bagel ini menjadi yang pertama bagi Andreeva sejak putaran pertama US Open 2025 melawan Alycia Parks.
Strategi Tenang Menjinakkan Gaya Agresif Sakkari
Kunci sukses Andreeva terletak pada kecerdasan taktik.
Ia paham betul bahwa Sakkari adalah pemain agresif yang gemar menyerang dari kedua sisi, baik forehand maupun backhand. Alih-alih meladeni adu pukulan keras, Andreeva memilih pendekatan berbeda: menetralkan.
Ia menjaga bola tetap dalam, memotong sudut, dan menunggu momen tepat untuk mengambil alih poin.
“Saya mencoba tetap solid di baseline, dan ketika ada kesempatan, saya masuk dan mengambil keuntungan dari posisi,” ungkap Andreeva usai laga.
Pendekatan ini membuat Sakkari frustrasi. Kesalahan demi kesalahan tak terhindarkan, terutama di set pertama.
Kebangkitan Singkat Sakkari, Penutup Matang Andreeva
Di set kedua, Sakkari sempat menemukan secercah harapan.
Tertinggal 0-2, 0-15 di gim ketiga, petenis Yunani itu justru memenangkan 12 poin beruntun dan membalikkan keadaan menjadi unggul 3-2. Publik Margaret Court Arena pun mulai bersemangat, berharap ada drama panjang.
Namun ketenangan Andreeva kembali berbicara.
Saat skor 5-4, ia mencetak break krusial, lalu menyelesaikan pertandingan dengan servis sendiri. Skor akhir 6-0, 6-4 memastikan tiket ke babak ketiga tanpa harus bermain tiga set.
Angka-angka yang Menjelaskan Dominasi Andreeva
Kemenangan ini bukan hanya indah secara visual, tetapi juga luar biasa di atas kertas:
- 4 : Andreeva menjadi pemain keempat sejak tahun 2000 yang mencatat 30+ kemenangan Grand Slam sebelum usia 19 tahun, bergabung dengan Maria Sharapova, Nicole Vaidisova, dan Coco Gauff.
- 5 : Ia mematahkan servis Sakkari lima kali, termasuk di awal set kedua dan saat membangun keunggulan 5-4.
- 7 : Sakkari hanya mencatat tujuh winner, dan nol di set pertama.
- 15% : Persentase poin servis pertama Sakkari yang dimenangi di set pertama (2 dari 13).
- 27 : Jumlah unforced error Sakkari, jauh di atas 11 winner Andreeva.
- 67 menit : Durasi pertandingan yang cukup singkat untuk duel melawan mantan pemain Top 10.
Di babak ketiga, Andreeva akan menghadapi Elena-Gabriela Ruse, yang menyingkirkan Ajla Tomljanovic 6-4, 6-4. Ini akan menjadi pertemuan pertama mereka di WTA Tour.
BACA JUGA: Carlos Alcaraz Melaju Ke R3 Australia Open 2026, Menang Epik Usai Set Pembuka 78 Menit
Hujan, Deuce, dan Tengah Malam: Ujian Mental Jasmine Paolini
Jika Andreeva menang lewat dominasi, kisah Jasmine Paolini adalah tentang ketahanan.
Skor 6-2, 6-3 atas Magdalena Frech tampak sederhana. Namun kenyataannya, laga ini adalah salah satu pertandingan paling melelahkan di putaran kedua.
Pertandingan ini:
- Diwarnai dua kali penundaan hujan
- Mengalami perpindahan lapangan dari KIA Arena ke John Cain Arena
- Berlangsung selama 1 jam 47 menit
- Baru selesai 15 menit sebelum tengah malam waktu setempat
Paolini menyebutnya sebagai “petualangan yang sangat berat”.
Pertandingan 17 Gim dengan 22 Deuce
Salah satu fakta paling mencolok: dari 17 gim yang dimainkan, sembilan di antaranya harus melalui deuce.
Total ada 22 poin deuce sepanjang laga.
Bagaimana Paolini bisa menang relatif cepat secara skor?
Jawabannya: ketangguhan di poin krusial.
- Ia memenangkan 8 gim yang berjalan hingga deuce.
- Ia menyelamatkan total 15 game point di delapan gim tersebut.
- Ia juga menggagalkan 11 dari 14 break point yang dihadapinya.
Inilah definisi kemenangan clutch.
Adaptasi Lapangan dan Penutup Spektakuler
Perpindahan ke John Cain Arena dengan atap tertutup menghadirkan tantangan baru. Kondisi berbeda, tanpa angin, tanpa hujan, memaksa Paolini cepat menyesuaikan diri.
Di saat penentuan, Paolini justru tampil paling tajam.
Pada skor 5-3 di set kedua, ia mematahkan servis Frech lewat kombinasi drop shot – backhand pass terbaik sepanjang laga. Dan di match point kedua, ia menutup pertandingan dengan forehand winner ke-20 miliknya.
Peluang Terbuka Lebar di Undian Paolini
Sektor undian Paolini kini terbuka lebar.
Sejak tersingkirnya Marta Kostyuk di putaran pertama, dipastikan akan ada perempat finalis baru di bagian undian ini.
Paolini akan menghadapi Iva Jovic, unggulan No. 29, di babak ketiga. Jovic baru saja menghancurkan Priscilla Hon 6-1, 6-2 dalam 71 menit.
Menariknya, Jovic berusia 18 tahun dan merupakan pemain termuda di Top 100. Ia juga pernah kalah dua kali dari Paolini pada 2025 di Indian Wells dan US Open.
BACA JUGA: Aryna Sabalenka Menang Mudah Atas Wakil China: Kubur Rasa Frustrasi, Sang Ratu Dunia Melaju Mulus
Dua Jalan, Satu Tujuan: Babak Ketiga Menanti
Dengan cara yang sangat berbeda, Mirra Andreeva dan Jasmine Paolini melaju ke R3 Australia Open 2026.
- Andreeva melaju lewat dominasi teknis dan ketenangan remaja jenius.
- Paolini bertahan lewat mental baja dan kemampuan menyelamatkan poin-poin mati.
Australia Open 2026 kini memasuki fase di mana bakat muda dan pengalaman matang mulai saling berhadapan.
Dan dari dua cerita ini, satu pesan jelas terasa:
Di Melbourne, bukan hanya pukulan keras yang menentukan, tetapi juga ketenangan di tengah kekacauan.






