Melbourne kembali menjadi panggung pembuktian bagi salah satu bintang muda paling bersinar di tenis putri dunia. Coco Gauff tidak hanya melangkah mulus ke babak ketiga Australia Open, tetapi juga menorehkan sebuah tonggak penting dalam kariernya: Coco Gauff raih kemenangan ke-251 di level WTA Tour.
Dalam duel babak kedua di Margaret Court Arena, petenis unggulan ketiga asal Amerika Serikat itu tampil dominan saat menyingkirkan Olga Danilovic dengan skor meyakinkan 6-2, 6-2 dalam waktu 1 jam 17 menit.
Hasil ini memperpanjang konsistensi Gauff di Melbourne, di mana ia kini menembus babak ketiga untuk empat tahun berturut-turut.
Namun kemenangan ini bukan sekadar soal tiket ke putaran berikutnya. Ini adalah cerita tentang evolusi permainan, kedewasaan taktik, dan bagaimana seorang petenis muda mulai membangun warisan besar sejak usia dini.
Tonggak 251 Kemenangan: Bukti Konsistensi di Usia Muda
Dua hari sebelum laga melawan Danilovic, Gauff baru saja mencatat kemenangan ke-250 sepanjang karier profesionalnya. Tak butuh waktu lama, angka itu bertambah menjadi 251.
Bagi petenis berusia 19 tahun, capaian ini bukan angka biasa. Di usia ketika banyak pemain masih mencari identitas permainan, Gauff sudah menumpuk ratusan kemenangan di level tertinggi.
BACA JUGA: Carlos Alcaraz Melaju Ke R3 Australia Open 2026, Menang Epik Usai Set Pembuka 78 Menit
Statistik ini menegaskan satu hal: Gauff bukan lagi prospek, melainkan kekuatan mapan di sirkuit WTA.
Keberhasilan menaklukkan Danilovic pun terasa semakin bermakna karena lawannya datang dengan modal besar, usai mencuri perhatian lewat kemenangan prestisius atas Venus Williams di laga pembuka.
Servis Jadi Senjata Utama di Margaret Court Arena
Jika harus memilih satu faktor penentu dalam kemenangan ini, jawabannya jelas: servis Coco Gauff.
Sejak gim pertama, Gauff langsung mengendalikan ritme. Kombinasi servis keras dan return agresif membuat Danilovic tertekan sejak awal.
Dalam waktu singkat, Gauff melesat unggul 5-0 tanpa memberi ruang bagi lawan untuk bernapas.
Danilovic sempat memperkecil jarak dan bahkan mencatat satu-satunya break dalam pertandingan di akhir set pertama. Namun reaksi Gauff menunjukkan kedewasaan seorang juara: ia langsung membalas dengan break untuk menutup set pembuka.
Set kedua berjalan nyaris identik. Gauff mencuri servis di awal, memimpin 3-0, lalu kembali mematahkan servis lawan di gim terakhir.
Hasil akhir pun tak terbantahkan: 6-2, 6-2.
Drop Shot Jadi Senjata Baru yang Mematikan
Di balik dominasi skor, ada satu aspek menarik dalam permainan Gauff: penggunaan drop shot.
Selama ini, drop shot bukan ciri khas utama Gauff. Bahkan ia sendiri mengaku kerap ragu menggunakan pukulan tersebut di momen penting. Namun di Melbourne, cerita itu berubah.
Dalam wawancara di lapangan, Gauff mengungkap bahwa ia mulai melatih drop shot secara serius di akhir sesi latihan. Inspirasi datang dari sosok Carlos Alcaraz, yang dikenal piawai memanfaatkan variasi pukulan.
Hasilnya langsung terlihat, pada pertandingan sebelumnya, ia memenangkan sekitar tujuh poin lewat drop shot. Namun saat melawan Danilovic, hampir semua drop shot yang ia lepaskan berbuah poin.
Menariknya, banyak drop shot justru dilakukan di poin-poin krusial, bertentangan dengan saran pelatihnya. Namun kali ini, keberanian itu terbayar lunas.
Ini menjadi sinyal penting bahwa Gauff kini bukan hanya mengandalkan kekuatan, tetapi juga mulai matang dalam variasi strategi.
BACA JUGA: Aryna Sabalenka Menang Mudah Atas Wakil China: Kubur Rasa Frustrasi, Sang Ratu Dunia Melaju Mulus
Dominasi Statistik: Kemenangan Menurut Angka
Kemenangan Gauff semakin terasa solid jika melihat deretan angka berikut:
1 : Kemenangan ini memperpanjang dominasi Gauff atas pemain kidal. Ia hanya kalah satu kali dari 16 laga terakhir melawan petenis bertangan kiri, yakni dari Diana Shnaider di Toronto 2024.
2 : Break point yang dihadapi Gauff sepanjang pertandingan. Keduanya terjadi di satu gim saat ia kehilangan servis di set pertama. Di tujuh gim servis lainnya, ia sama sekali tidak menghadapi break point.
17 : Break point yang dimiliki Gauff. Ia memanfaatkan 5 dari 17 peluang dan hanya membiarkan Danilovic menahan servis tiga kali dari delapan gim servis.
39 : Jumlah pertandingan Grand Slam beruntun yang dimenangkan Gauff setelah merebut set pertama. Kekalahan terakhir dalam skenario ini terjadi di Wimbledon 2022 melawan Amanda Anisimova.
84% : Persentase poin servis pertama yang dimenangkan Gauff (26 dari 31), atau 16 persen lebih tinggi dibanding rata-rata WTA Tour.
Angka-angka ini menegaskan satu hal: ketika servis Gauff bekerja maksimal, peluang lawan untuk membalikkan keadaan nyaris nol.
Lolos ke Babak Ketiga, Tantangan Sesama Amerika Menanti
Berkat kemenangan ini, Gauff memastikan satu tempat di babak ketiga Australia Open.
Di sana, ia akan menghadapi Hailey Baptiste, sesama petenis Amerika Serikat. Laga ini akan menjadi pertemuan kedua sepanjang karier mereka, dan yang pertama sejak tahun 2023.
Meski secara peringkat dan pengalaman Gauff lebih diunggulkan, duel sesama Amerika selalu menghadirkan dinamika tersendiri. Baptiste dikenal sebagai pemain agresif yang berani mengambil risiko.
Namun dengan performa seperti ini, Gauff jelas datang sebagai favorit kuat.
Empat Tahun Beruntun di Babak Ketiga: Konsistensi Kelas Dunia
Satu catatan penting lainnya: ini adalah tahun keempat berturut-turut Gauff menembus babak ketiga di Melbourne.
Konsistensi ini menempatkannya sejajar dengan para elit tenis putri dunia. Australia Open bukan lagi sekadar turnamen pembuka musim bagi Gauff, melainkan arena yang selalu memberinya momentum besar.
Dengan usia yang masih sangat muda, stabilitas performa di Grand Slam menjadi modal berharga untuk membidik gelar-gelar besar di masa depan.
BACA JUGA: Petenis Indonesia Janice Tjen Kalahkan Fernandez di R1, Ukir Sejarah Manis di Australian Open 2026
Lebih dari Sekadar Angka, Awal Warisan Besar
Kemenangan atas Olga Danilovic mungkin terlihat rutin di atas kertas. Namun jika dilihat lebih dalam, laga ini adalah potret perkembangan seorang calon legenda.
Dengan Coco Gauff raih kemenangan ke-251, menembus babak ketiga untuk empat tahun beruntun, kemudian menemukan senjata baru lewat drop shot, dan ini mempertegas dominasi lewat servis kelas dunia.
Semua itu menyatu dalam satu pesan: Gauff tidak hanya menang, ia sedang membangun fondasi untuk sesuatu yang jauh lebih besar.
Australia Open 2026 baru berjalan beberapa hari. Namun satu hal sudah jelas, Coco Gauff datang ke Melbourne bukan sekadar untuk bertahan, melainkan untuk melangkah sejauh mungkin, dan mungkin, menuliskan sejarah baru.






