Momen bersejarah akhirnya tiba: Tomas Martin Etcheverry Raih Gelar ATP Perdana setelah perjuangan heroik yang penuh drama di turnamen Rio Open 2026.
Petenis Argentina itu menutup pekan luar biasa dengan kemenangan 3-6, 7-6(3), 6-4 atas Alejandro Tabilo dalam laga final yang berlangsung selama tiga jam empat menit, Senin (23/2/2026) dini hari WIB.
Gelar ini bukan sekadar trofi biasa. Ini adalah penebusan setelah penantian panjang, kegagalan menyakitkan di final sebelumnya, dan hari pertandingan paling melelahkan dalam kariernya.
Tomas Martin Etcheverry Raih Gelar ATP Perdana Lewat Ujian Fisik Ekstrem
Perjalanan menuju gelar ini sama sekali tidak mudah. Hujan yang mengguyur Rio sehari sebelumnya memaksa semifinal ditunda. Akibatnya, Etcheverry harus memainkan dua pertandingan penuh dalam satu hari Minggu yang melelahkan.
Ia lebih dulu menuntaskan semifinal tiga set melawan Vit Kopriva. Pertandingan panjang itu menguras tenaga dan terlihat jelas efeknya saat final dimulai.
BACA JUGA: Bungkam Tommy Paul, Sebastian Korda Juara Delray Beach Open 2026
Pada awal laga perebutan gelar, Etcheverry tampak kehabisan energi dan tertinggal 3-6, 1-3.
Situasi tersebut membuat banyak pihak mengira laga akan berakhir cepat. Namun di situlah mental juara Etcheverry muncul. Ia menolak menyerah meski tubuhnya menunjukkan tanda-tanda kelelahan ekstrem.
Kebangkitan Dramatis dari Tertinggal Set dan Break
Momentum pertandingan berubah di pertengahan set kedua. Etcheverry mulai menemukan ritme pukulan forehand andalannya dan memperpanjang reli untuk menguji stamina lawan.
Poin paling krusial terjadi pada tie-break set kedua ketika ia melepaskan passing shot forehand keras yang tak mampu dijangkau Tabilo.
Pukulan tersebut bukan hanya memberi poin, tetapi juga membangkitkan kepercayaan diri sekaligus mematahkan momentum lawan.
Sejak saat itu, jalannya pertandingan berbalik. Tabilo tetap melawan dengan reli-reli panjang dan permainan agresif dari baseline, tetapi Etcheverry menunjukkan ketahanan fisik dan mental yang luar biasa untuk menjaga konsistensi hingga akhir set penentuan.
Penantian Panjang Setelah Nyaris Juara di Lyon
Gelar ini terasa semakin spesial karena datang hampir dua tahun setelah momen paling menyakitkan dalam kariernya. Pada Mei 2024 di Lyon Open, Etcheverry pernah berada satu poin dari gelar ATP pertamanya sebelum akhirnya kalah dari Giovanni Mpetshi Perricard.
Kekalahan tersebut menjadi luka yang terus diingatnya. Ia mengaku momen itu memotivasinya untuk bekerja lebih keras bersama tim pelatih demi memastikan kesempatan berikutnya tidak terbuang.
Kini, semua kerja keras itu terbayar lunas.
“Ini mimpi yang jadi kenyataan,” ungkap Etcheverry usai pertandingan. “Saya sudah lama mencari gelar pertama ini. Kami bekerja sangat keras sebagai tim dan saya masih sulit percaya akhirnya terjadi.”
Statistik dan Rekor Penting di Balik Kemenangan
Kemenangan di Rio bukan hanya soal trofi. Ada sejumlah catatan penting yang menandai tonggak karier petenis berusia 26 tahun tersebut:
Ini adalah gelar pertama di level ATP Tour setelah sebelumnya kalah di tiga final.
Ia meraih kemenangan ke-100 di level tur pada hari Jumat sebelum final.
Ia kini unggul 2-0 head-to-head atas Tabilo setelah juga menang di perempat final turnamen Buenos Aires pekan sebelumnya.
Ia melonjak 18 posisi ke peringkat 33 dunia menurut PIF ATP Live Rankings dan kembali ke Top 40 untuk pertama kalinya sejak Februari tahun lalu.
Statistik tersebut menunjukkan bahwa gelar ini bukan keberuntungan sesaat, melainkan hasil perkembangan performa yang konsisten dalam beberapa bulan terakhir.
Tabilo Gagal Raih Gelar Keempat
Di sisi lain, kekalahan ini menjadi pukulan bagi Tabilo yang sebenarnya tampil solid sepanjang turnamen. Petenis Chile itu mengincar gelar tur keempat dalam kariernya sekaligus trofi pertama di level ATP 500.
Permainannya di final sebenarnya cukup efektif, terutama di set pertama ketika ia mampu memanfaatkan kelelahan lawan.
Ia memaksa Etcheverry bergerak dari sisi ke sisi lapangan dan memancing kesalahan sendiri.
Namun ketika pertandingan memasuki fase krusial, ketangguhan mental Etcheverry menjadi pembeda. Tabilo tidak mampu memanfaatkan peluang saat unggul dan akhirnya harus mengakui keunggulan rivalnya.
Salah satu faktor terbesar kemenangan Etcheverry adalah kemampuannya menjaga fokus meski fisiknya menurun. Dalam laga sepanjang lebih dari tiga jam itu, ia tetap mampu menghasilkan pukulan agresif dan mempertahankan akurasi.
Ia mengungkapkan bahwa satu-satunya hal yang ia pikirkan di set terakhir adalah memberikan segalanya.
“Saya hanya mencoba memberikan 100 persen. Ini final, pertandingan terakhir turnamen, jadi saya keluarkan semua yang saya punya. Pada akhirnya, saya mendapatkan hadiahnya.”
Ucapan tersebut mencerminkan mentalitas petarung yang membuatnya akhirnya mampu menembus batasan diri sendiri.
BACA JUGA: Final All-American! Sebastian Korda Melaju ke Partai Puncak Delray Beach Open, Misi Rebut Gelar
Momentum Besar untuk Musim 2026
Keberhasilan ini bisa menjadi titik balik karier Etcheverry. Setelah sekian lama berada di ambang gelar tanpa berhasil mengangkat trofi, kini ia memiliki kepercayaan diri baru untuk bersaing di level tertinggi.
Lonjakan peringkat juga membuka peluang baginya untuk mendapatkan undian lebih menguntungkan di turnamen-turnamen besar mendatang.
Jika ia mampu mempertahankan konsistensi, bukan tidak mungkin ia segera menembus Top 30 atau bahkan lebih tinggi.
Gelar Perdana yang Akan Selalu Diingat
Banyak pemain memenangkan gelar pertama dengan cara nyaman. Namun kisah Tomas Martin Etcheverry Raih Gelar ATP Perdana akan dikenang karena drama, kelelahan, dan kebangkitan luar biasa dalam satu hari yang sama.
Ia bukan hanya menang, ia menaklukkan rasa lelah, tekanan final, dan bayang-bayang kegagalan masa lalu sekaligus.
Bagi penggemar tenis, kemenangan ini adalah pengingat bahwa dalam olahraga, momen terbesar sering lahir justru ketika seorang atlet berada di batas kemampuan fisiknya.
Dan di Rio, Etcheverry membuktikan bahwa batas itu bisa ditembus dengan tekad.






