Paula Badosa komentari kritik pedas yang ia terima di media sosial setelah memutuskan mundur akibat cedera pada ajang Dubai Tennis Championships 2026.
Mantan petenis nomor dua dunia itu menegaskan bahwa keputusannya bukan bentuk ketidakhormatan terhadap olahraga, melainkan langkah sulit yang harus diambil demi menjaga kondisi tubuhnya yang masih dibayangi cedera kronis.
Petenis asal Spanyol berusia 28 tahun tersebut terpaksa menghentikan pertandingan babak kedua melawan Elina Svitolina.
Dalam laga itu, Badosa sempat unggul 4-1 sebelum kehilangan lima gim beruntun dan menyerah di set pertama.
Setelah meminta perawatan medis karena masalah pada paha kanan, ia akhirnya memilih mundur.
Keputusan tersebut memicu komentar negatif dari seorang warganet yang menuduhnya tidak menghormati permainan. Badosa pun angkat bicara.
Paula Badosa Komentari Kritik Pedas dan Ungkap Perjuangan Lawan Cedera Kronis
Melalui media sosial, Badosa membalas tudingan tersebut dengan emosional namun tegas.
Ia menyatakan bahwa tidak semua orang memahami bagaimana rasanya hidup dengan cedera kronis, tetapi tetap memilih untuk terus berjuang di level tertinggi.
Menurutnya, setiap hari adalah ketidakpastian. Ia bangun tanpa tahu bagaimana tubuhnya akan merespons latihan atau pertandingan.
Cedera punggung kronis yang sempat menghantuinya bahkan membuatnya mempertimbangkan pensiun dini pada 2024.
Namun, kerja keras dan determinasi membawanya kembali ke performa terbaik hingga kembali menembus peringkat 10 besar dunia musim lalu. Karena itu, ia merasa tudingan “tidak menghormati tenis” sangat menyakitkan.
“Jika masih ada 1 persen peluang untuk terus bermain, saya akan mengambilnya,” tulisnya.
Bagi Badosa, tenis bukan sekadar profesi, melainkan gairah hidup yang terus ia perjuangkan meski dihantam “mimpi buruk tanpa akhir” akibat cedera.
BACA JUGA: Hasil Qatar ExxonMobil Open Babak 32 Besar: Andrey Rublev dan Stefanos Tsitsipas Melaju
Cedera di Dubai Perpanjang Daftar Masalah Fisik
Turnamen Dubai kali ini memang menjadi ujian berat bagi sejumlah pemain. Badosa datang dengan tekad besar, tetapi masalah paha kanan memaksanya berhenti lebih cepat.
Dalam pertandingan melawan Elina Svitolina, momentum sempat berada di tangannya. Keunggulan 4-1 di awal laga menunjukkan ia tampil kompetitif. Namun setelah itu, kondisi fisiknya menurun drastis.
Tim medis sempat memberikan perawatan di lapangan. Sayangnya, rasa nyeri tak kunjung mereda sehingga keputusan mundur menjadi opsi paling realistis.
Langkah itu tentu mengecewakan penggemar, tetapi bagi atlet profesional, kesehatan jangka panjang jauh lebih penting daripada memaksakan satu pertandingan.
Sorotan pada Cyberbullying dan Ancaman Online
Kasus yang dialami Badosa kembali memicu perdebatan luas soal tekanan mental akibat media sosial.
Ia menilai bentuk ketidakhormatan yang sebenarnya justru datang dari komentar penuh kebencian yang dilontarkan tanpa empati.
Isu ini bukan hal baru di dunia tenis putri. Pihak Women’s Tennis Association (WTA) menegaskan bahwa perlindungan terhadap pemain dari ancaman dan pelecehan online menjadi prioritas utama.
Beberapa pemain lain juga pernah bersuara. Elina Svitolina sebelumnya mengaku menerima ancaman pembunuhan usai kekalahan di turnamen Kanada musim lalu.
Ia menyebut perilaku tersebut memalukan dan banyak dipicu oleh penjudi yang kecewa.
Sebuah survei gabungan antara WTA dan International Tennis Federation mengungkapkan sekitar 40 persen pelecehan terhadap pemain berasal dari penjudi yang marah.
Tak hanya itu, petenis peringkat enam dunia, Amanda Anisimova, juga mengaku hampir setiap hari menerima komentar negatif tentang tubuhnya.
Menurutnya, banyak orang tidak menyadari betapa besar dampak psikologis dari komentar-komentar tersebut.
BACA JUGA: Nyaris Tersingkir, Carlos Alcaraz Selamatkan 2 Set Poin, Ukir 150 Kemenangan Hard Court di Doha
Tekad Badosa: Selalu Coba Satu Kali Lagi
Di tengah tekanan fisik dan mental, Badosa menegaskan bahwa ia tidak akan menyerah.
Ia menyadari perjalanan kariernya tidak mudah, tetapi justru di situlah letak makna perjuangan.
Baginya, kesempatan untuk melangkah ke lapangan dan bersaing adalah sesuatu yang sepadan dengan semua rasa sakit yang harus ditanggung.
Ia memilih untuk terus mencoba, satu pertandingan demi satu pertandingan.
Pernyataan tegasnya menjadi pengingat bahwa di balik sorotan glamor dunia tenis profesional, ada perjuangan panjang melawan cedera, tekanan publik, serta ekspektasi tinggi.
Kisah ini juga menjadi refleksi bagi publik agar lebih bijak dalam berkomentar di media sosial. Kritik boleh saja, tetapi empati tetap harus menjadi dasar.
Dengan tekad kuat dan semangat pantang menyerah, Badosa membuktikan bahwa karier seorang atlet bukan hanya soal menang dan kalah, melainkan tentang keberanian untuk bangkit setiap kali terjatuh.






