Kalah di Prancis Terbuka 2026 menjadi pukulan berat bagi Aryna Sabalenka setelah petenis nomor satu dunia itu tersingkir secara dramatis di perempat final Roland Garros. Sabalenka mengakui bahwa masalah mental menjadi faktor utama di balik kekalahan mengejutkannya dari Diana Shnaider dalam laga yang berlangsung penuh emosi.
Bertanding di Court Philippe-Chatrier, Sabalenka sebenarnya berada di atas angin sebelum akhirnya menyerah 6-3, 5-7, 0-6 dari petenis muda Rusia tersebut.
Sabalenka Kehilangan Kendali Setelah Unggul Besar
Awal pertandingan berjalan sesuai rencana bagi Sabalenka. Juara Grand Slam tiga kali itu tampil dominan dan berhasil merebut set pertama dengan skor 6-3.
BACA JUGA: Kalahkan Rekan Senegaranya, Marta Kostyuk Cetak Sejarah ke Semifinal Roland Garros 2026
Pada set kedua, ia bahkan unggul 4-1 dan sempat memimpin 30-0 saat melakukan servis. Namun momentum perlahan berubah setelah Shnaider mulai meningkatkan agresivitas permainannya.
Sabalenka gagal memanfaatkan sejumlah peluang penting dan justru kehilangan kendali pertandingan. Setelah kehilangan set kedua, performanya menurun drastis hingga kalah telak 0-6 pada set penentuan.
Akui Gagal Bangkit Secara Mental
Dalam konferensi pers usai pertandingan, Sabalenka mengaku kesulitan menerima apa yang terjadi di lapangan.
Menurutnya, kekalahan tersebut bukan karena masalah teknis seperti servis atau forehand, melainkan karena kondisi mental yang tidak stabil setelah kehilangan set kedua.
“Saya memiliki peluang yang sangat bagus di set kedua. Namun saya menyia-nyiakannya dan dia bermain sangat baik. Secara mental saya tidak bisa benar-benar pulih setelah set kedua,” ujar Sabalenka.
BACA JUGA: Melaju ke Semifinal Prancis Terbuka, Mirra Andreeva Tampil Perkasa Hanya dalam 56 Menit
Petenis asal Belarusia itu bahkan mengaku tidak ingat kapan terakhir kali dirinya kehilangan 10 gim secara beruntun dalam satu pertandingan.
“Saya merasa masuk ke lubang yang sangat dalam secara mental dan tidak bisa kembali ke jalur yang benar,” tambahnya.
Diana Shnaider Manfaatkan Momen dengan Sempurna
Di sisi lain, Diana Shnaider tampil luar biasa dalam memanfaatkan situasi. Petenis muda berusia 21 tahun tersebut menunjukkan ketenangan dan keberanian saat menghadapi tekanan dari pemain nomor satu dunia.
Setelah berhasil merebut set kedua, kepercayaan diri Shnaider meningkat tajam. Ia terus menekan Sabalenka hingga akhirnya mengunci kemenangan dan memastikan tempat di babak semifinal Roland Garros 2026.
Kemenangan ini menjadi salah satu hasil terbesar dalam karier Shnaider sejauh ini.
BACA JUGA: Tahan Laju Teichmann, Mirra Andreeva Melangkah ke Perempat Final Roland Garros 2026
Masalah Lama Kembali Menghantui Sabalenka
Kekalahan dari Shnaider menambah daftar kegagalan menyakitkan Sabalenka di Grand Slam non-hard court.
Pada Roland Garros 2023, ia kalah dari Karolina Muchova setelah sempat memegang keunggulan besar. Setahun kemudian, Sabalenka kembali gagal meraih gelar setelah kalah dari Coco Gauff di partai final meski sempat unggul satu set.
Kini, skenario serupa kembali terulang di Paris.
Sabalenka mengakui bahwa ambisinya untuk meraih gelar Grand Slam di lapangan tanah liat dan rumput terkadang justru membuatnya terlalu emosional.
“Mungkin saya terlalu memikirkan bahwa saya belum pernah memenangkan Grand Slam di permukaan ini. Itu membuat saya terlalu banyak berpikir dan terlalu emosional dalam beberapa momen,” katanya.
Fokus Bangkit Menuju Wimbledon
Meski tersingkir lebih awal, Sabalenka dipastikan tetap mempertahankan posisi puncak ranking WTA hingga Wimbledon dimulai.
Turnamen Wimbledon sendiri menjadi target berikutnya bagi petenis berusia 28 tahun tersebut. Menariknya, ajang Grand Slam lapangan rumput itu juga menjadi satu-satunya turnamen mayor di mana Sabalenka belum pernah mencapai final.
BACA JUGA: Matteo Berrettini Selamatkan Dua Match Point, Lolos Dramatis ke Babak Keempat Roland Garros 2026
Meski kecewa berat, ia bertekad menjadikan kekalahan ini sebagai pelajaran berharga.
“Apa yang tidak membunuh kita akan membuat kita lebih kuat. Saya yakin suatu saat akan menemukan solusi untuk masalah ini dan kembali menjadi pemain yang lebih tangguh,” tutup Sabalenka.
Kekalahan di Prancis Terbuka 2026 memang menyakitkan bagi Sabalenka, tetapi tekadnya untuk bangkit menunjukkan bahwa perjuangannya di level tertinggi tenis dunia masih jauh dari selesai.






