Ungglan kedua, Jannik Sinner tersungkur di tangan Novak Djokovic dalam duel semifinal Australian Open yang berlangsung dramatis hingga lima set, Jumat (30/01/2026) malam WIB.
Petenis Serbia itu tampil luar biasa dengan menumbangkan sang juara bertahan sekaligus mengakhiri tren negatif lima kekalahan beruntun dari Sinner, untuk memastikan tiket ke final Grand Slam pertamanya sejak Wimbledon 2024.
Bertanding hingga dini hari di Rod Laver Arena, Djokovic menang dengan skor 3-6, 6-3, 4-6, 6-4, 6-4 dalam laga maraton selama 4 jam 9 menit.
Kemenangan ini membawa Djokovic selangkah lebih dekat menuju gelar Grand Slam ke-25 dalam kariernya sekaligus titel ke-11 di Melbourne, yang akan semakin mengukuhkan statusnya sebagai legenda tenis dunia.
Djokovic Tolak Menyerah di Tengah Tekanan
Laga ini sempat mengingatkan pada cerita pahit Djokovic sepanjang musim 2025, ketika ia selalu terhenti di semifinal keempat turnamen Grand Slam.
Setelah kalah di set pertama dan tertinggal dua set berbanding satu, skenario tersebut tampak kembali menghantui petenis berusia 38 tahun itu.
Namun kali ini berbeda. Djokovic menunjukkan mental baja dengan menyelamatkan 16 dari 18 break point yang ia hadapi sepanjang pertandingan.
Di bawah sorotan lampu Rod Laver Arena, ia perlahan bangkit, meningkatkan intensitas permainan, dan memaksa Sinner bertarung hingga batas maksimal.
“Sejujurnya saya kehabisan kata-kata. Rasanya sangat sureal,” ujar Djokovic usai laga.
“Bermain lebih dari empat jam, hampir jam dua pagi, mengingatkan saya pada final 2012 melawan Rafa.
Intensitas dan kualitas tenisnya sangat tinggi, dan itu satu-satunya cara untuk mengalahkannya malam ini.”
Jannik Sinner Tersungkur Setelah Awal Meyakinkan
Di awal pertandingan, Jannik Sinner tampil seperti penguasa Melbourne Park.
Ia menunjukkan mengapa dirinya memenangi lima pertemuan terakhir melawan Djokovic, tampil solid di set pertama dengan 15 winner dan mendominasi reli-reli panjang dari baseline.
Namun Djokovic merespons dengan agresivitas tinggi di set kedua. Break krusial pada gim keempat membuatnya unggul 3-1 dan menyamakan kedudukan.
Pertarungan kembali memanas di set ketiga, ketika Sinner memanfaatkan variasi pukulan dan akurasi servis untuk kembali unggul 2-1 set.
Meski demikian, pengalaman dan ketenangan Djokovic berbicara di momen krusial.
Pada set keempat, ia meningkatkan kecepatan forehand hingga di atas 140 km/jam dan menyelamatkan dua break point penting pada skor 4-3 untuk memaksa laga berlanjut ke set penentuan.
Magis Djokovic di Set Penentuan
Di set kelima, Djokovic memperlihatkan mengapa ia dikenal sebagai salah satu petarung terbesar dalam sejarah tenis.
Ia menyelamatkan delapan break point, termasuk tiga dari posisi 0/40 pada gim ketujuh. Momentum itu menjadi titik balik yang mematahkan perlawanan Sinner.
Break penentu akhirnya didapat Djokovic pada gim ketujuh sebelum ia mengunci kemenangan dengan servisnya sendiri.
Meski sempat gagal memanfaatkan dua match point pertama, Djokovic akhirnya memastikan kemenangan pada kesempatan ketiga dan langsung berlutut di lapangan, merayakan salah satu kemenangan paling emosional dalam kariernya.
Menuju Final Impian Lawan Alcaraz
Kemenangan ini mengantarkan Djokovic ke final Australian Open, di mana ia akan menghadapi rival lamanya, Carlos Alcaraz.
Petenis Spanyol itu sebelumnya menorehkan sejarah dengan memainkan semifinal terlama Australian Open saat menyingkirkan Alexander Zverev dalam duel 5 jam 27 menit.
Menariknya, Djokovic justru tiba di final dengan kondisi fisik relatif lebih segar.
Ia melewati tiga laga awal tanpa kehilangan set, mendapat walkover di babak keempat, serta diuntungkan oleh mundurnya Lorenzo Musetti di perempat final.
Djokovic kini unggul tipis 5-4 dalam rekor pertemuan melawan Alcaraz dan membawa modal kepercayaan diri tinggi menuju laga puncak.
BACA JUGA: Janice Tjen dan Zeyneb Sonmez Resmi Tampil di Mubadala Abu Dhabi Open 2026
Catatan Bersejarah Djokovic
Final ini menjadi final Grand Slam ke-38 bagi Djokovic, menjadikannya petenis tertua di era Open yang mencapai final Australian Open.
Ia juga mencatatkan 104 kemenangan di Melbourne Park, rekor terbanyak sepanjang sejarah turnamen, melewati catatan Roger Federer.
Kemenangan atas Sinner juga mematahkan dominasi dua petenis muda tersebut.
Sebelumnya, Sinner dan Alcaraz berbagi delapan gelar Grand Slam terakhir dan tampil di tiga final mayor beruntun.
Djokovic sukses merusak dominasi itu dan kembali menegaskan eksistensinya di level tertinggi tenis dunia.






