Langkah Jannik Sinner di Australian Open 2026 kembali terasa tak terbendung. Di bawah sorotan lampu malam Melbourne, Kamis (22/01/2026), Jannik Sinner melaju ke Round 3 AO 2026 setelah menaklukkan tuan rumah James Duckworth dengan skor telak 6-1, 6-4, 6-2.
Kemenangan ini bukan sekadar hasil rutin di babak awal. Di balik dominasi itu, tersimpan ambisi besar: Sinner tengah memburu gelar ketiga beruntun di Australian Open, sebuah pencapaian langka yang dalam era modern baru pernah diraih oleh Novak Djokovic.
Dominasi Tanpa Banyak Cela di Rod Laver Arena
Sejak awal pertandingan, perbedaan kelas terlihat jelas.
Menghadapi dukungan penuh publik Australia yang memihak Duckworth, Sinner tetap tampil tenang. Servisnya solid, pengembalian bolanya tajam, dan penguasaan reli membuat lawannya kesulitan mengembangkan permainan.
Gim pertama menjadi sinyal kuat. Sinner langsung memimpin cepat dan menutup set pembuka dengan skor 6-1 tanpa memberi ruang bagi Duckworth bernapas.
Di set kedua, perlawanan Duckworth mulai terlihat. Ia mencoba bermain lebih agresif dan memaksa reli panjang. Namun, setiap kali momentum tampak mengarah ke tuan rumah, Sinner selalu menemukan jawaban.
Set kedua pun diamankan dengan skor 6-4.
Memasuki set ketiga, skenario kembali mirip set pertama. Sinner meningkatkan tempo, mematahkan servis lawan di momen krusial, lalu menutup pertandingan dengan skor 6-2.
BACA JUGA: Tiga Petenis AS Tembus R3 Australia Open, Dominasi Negeri Paman Sam Menggema di Melbourne
Rekor Sempurna Lawan Petenis Australia Terus Berlanjut
Kemenangan atas Duckworth memperpanjang catatan impresif Sinner.
Ia kini memiliki rekor sempurna 9-0 melawan petenis Australia di turnamen Grand Slam. Sebuah statistik yang menunjukkan betapa konsistennya Sinner setiap kali menghadapi wakil tuan rumah di panggung besar.
Tak hanya itu, menurut catatan Infosys Stats, Sinner juga tampil nyaris tanpa cela di servis.
Ia menghapus seluruh tiga break point yang dihadapi sepanjang pertandingan. Artinya, Duckworth sama sekali tak pernah benar-benar mendekati peluang membalik keadaan.
Di level elite, detail-detail seperti inilah yang menjadi pembeda antara juara dan penantang.
Servis dan Return Jadi Senjata Utama Sinner
Usai pertandingan, Sinner menyoroti dua aspek utama yang membuatnya tampil dominan: servis dan pengembalian.
Menurutnya, kombinasi dua elemen itu membuat ia mampu mengontrol ritme sejak awal.
Ia merasa nyaman setiap kali menerima servis lawan, sekaligus percaya diri ketika berada di belakang garis servis sendiri.
Hasilnya terlihat jelas di lapangan: tekanan konstan, minim kesalahan, dan efisiensi tinggi di poin-poin penting.
Bagi seorang juara bertahan, performa seperti ini adalah sinyal positif bahwa ia berada di jalur yang tepat.
Respek untuk Penonton Australia
Meski mengalahkan petenis tuan rumah, Sinner tetap mendapat sambutan hangat dari publik Melbourne.
Ia pun menyampaikan apresiasi secara terbuka.
Menurutnya, atmosfer yang adil dan sportif membuat pertandingan terasa lebih menyenangkan. Ia sadar tidak berasal dari Australia, namun tetap merasakan dukungan yang tulus dari tribun.
Sikap ini semakin mempertegas citra Sinner sebagai bintang besar yang rendah hati.
BACA JUGA: Iga Swiatek Pertahankan Rekor Atas Marie Bouzkova, Ukir Sejarah 24 Grand Slam Beruntun di Melbourne
Jannik Sinner Melaju Ke Round 3 AO 2026, Tantangan Baru Menanti
Dengan kemenangan ini, Jannik Sinner melaju ke Round 3 AO 2026 dan akan berhadapan dengan petenis Amerika Serikat, Eliot Spizzirri.
Di atas kertas, Sinner jelas lebih diunggulkan. Namun, babak ketiga selalu menyimpan potensi kejutan.
Bagi Sinner, menjaga fokus menjadi kunci utama. Ia tak ingin lengah, terlebih ambisi besar menunggu di depan.
Ambisi Masuk Klub Eksklusif Peraih Tiga Gelar Beruntun
Target Sinner di Melbourne tahun ini sangat jelas: menjadi petenis kedua di Era Terbuka yang mampu memenangi tiga Australian Open secara beruntun, mengikuti jejak Novak Djokovic.
Sejauh ini, semua berjalan sesuai rencana.
Dua laga awal dilalui tanpa kehilangan set. Kondisi fisik terlihat prima, dan kepercayaan diri terus meningkat.
Jika konsistensi ini terjaga, peluang Sinner untuk mencetak sejarah benar-benar terbuka lebar.
Isyarat Rivalitas Besar: Sinner Singgung Nama Alcaraz
Di tengah wawancara pascalaga, satu momen menarik muncul.
Ketika ditanya soal drop shot, Sinner menyebut satu nama tanpa ragu: Carlos Alcaraz.
Dengan nada ringan, ia mengakui bahwa rivalnya dari Spanyol itu adalah sosok dengan sentuhan drop shot terbaik saat ini.
Pernyataan sederhana itu langsung memantik imajinasi publik.
Pasalnya, duel Sinner vs Alcaraz kini dianggap sebagai rivalitas terbesar generasi baru tenis dunia.
Menariknya, pertemuan mereka di AO 2026 hanya mungkin terjadi di partai final.
Duel Impian yang Bisa Terjadi di Puncak Turnamen
Dalam beberapa tahun terakhir, Sinner dan Alcaraz bergantian mendominasi turnamen besar.
Mereka telah berbagi delapan gelar Grand Slam terakhir, sebuah fakta yang menegaskan bahwa era baru tenis dunia sudah dimulai.
Jika keduanya sama-sama melaju hingga partai puncak di Melbourne, dunia tenis akan kembali disuguhkan duel epik.
Namun, jalan menuju final masih panjang.
Setiap pertandingan berikutnya adalah ujian baru bagi Sinner.
Mental Juara Jadi Modal Terbesar
Selain teknik dan fisik, satu hal yang menonjol dari penampilan Sinner adalah ketenangan mental.
Tak ada gestur berlebihan, tak ada ekspresi panik, bahkan ketika menghadapi break point.
Ia bermain seolah tahu persis kapan harus menyerang dan kapan harus menunggu.
Mentalitas inilah yang biasanya dimiliki petenis besar saat memasuki fase emas karier.
BACA JUGA: Novak Djokovic Melaju Ke Round 3 Australia Open, Langkah Mantap Sang Legenda Menuju Sejarah Baru
Jannik Sinner Melaju Ke Round 3 AO 2026, Sejarah Mulai Mengintip
Dengan satu kemenangan lagi, Sinner akan semakin dekat ke fase krusial turnamen.
Jannik Sinner melaju ke Round 3 AO 2026 bukan hanya kabar rutin, melainkan bagian dari narasi besar menuju sejarah.
Hat-trick gelar Australian Open bukan mimpi kosong.
Jika performa setajam ini terus berlanjut, Melbourne bisa kembali menjadi saksi lahirnya legenda baru.
Kini, pertanyaan tinggal satu: Siapa yang mampu menghentikan Jannik Sinner?






