Novak Djokovic tak menyerah menghadapi gempuran era baru tenis dunia. Meski kini Jannik Sinner dan Carlos Alcaraz disebut sebagai wajah dominasi baru di lapangan, petenis asal Serbia itu menegaskan ambisinya belum padam, terutama di Australian Open yang telah menjadi “rumah” kejayaannya.
Djokovic memastikan satu tempat di semifinal Australian Open usai Lorenzo Musetti terpaksa mundur karena cedera saat unggul dua set.
Hasil tersebut mengantar Djokovic ke semifinal ke-13 di Melbourne Park, sekaligus membuka peluangnya untuk meraih gelar ke-11 Australian Open dan Grand Slam ke-25 sepanjang karier.
Di usia 38 tahun, banyak yang memprediksi Djokovic mulai memasuki fase senja. Namun, sang legenda justru menegaskan bahwa dirinya belum siap memberi panggung sepenuhnya kepada generasi baru.
BACA JUGA: Beruntung Tapi Lolos! Novak Djokovic Amankan Tiket Semifinal Australia Open 2026
Novak Djokovic Tak Menyerah di Tengah Dominasi Generasi Baru
Nama Jannik Sinner dan Carlos Alcaraz kini mendominasi perbincangan tenis dunia.
Dua petenis muda tersebut telah membagi delapan gelar Grand Slam terakhir dan menempati dua posisi teratas peringkat dunia.
Rivalitas mereka bahkan disebut sebagai poros kekuatan baru tenis putra.
Meski begitu, Djokovic melihat fenomena ini sebagai bagian alami dari siklus olahraga.
“Roger Federer dan Rafael Nadal akan selalu menjadi rival terbesar saya,” ujar Djokovic. “Namun saya sangat menghormati apa yang dilakukan Jannik dan Carlos. Mereka luar biasa dan akan mendominasi tenis selama bertahun-tahun ke depan.”
Menurut Djokovic, kehadiran bintang baru justru membawa warna positif bagi tenis dunia, baik dari sisi kualitas pertandingan maupun daya tarik global.
Bukan Mengejar, Tapi Menciptakan Sejarah Sendiri
Meski statistik musim 2025 menunjukkan keunggulan generasi muda, Djokovic menolak anggapan bahwa dirinya kini sekadar pengejar rekor atau bayang-bayang kejayaan masa lalu.
Pada musim lalu, Djokovic sukses mencapai semifinal di keempat turnamen Grand Slam.
Ia memang kalah dari Sinner di Roland Garros dan Wimbledon, serta dari Alcaraz di US Open, namun konsistensi tersebut menunjukkan bahwa dirinya masih berada di level tertinggi.
“Saya tidak merasa sedang mengejar siapa pun,” tegas Djokovic. “Saya menciptakan sejarah saya sendiri. Target saya selalu sama: mencapai final, terutama di Grand Slam.”
Bagi Djokovic, turnamen major tetap menjadi motivasi utama yang membuatnya terus bertanding di level elite.
BACA JUGA: Drama di Melbourne! Lorenzo Musetti Cedera Saat Unggul Dua Set atas Djokovic
Mental Juara Masih Membara
Pernyataan paling kuat dari Djokovic datang saat ia menegaskan bahwa dirinya belum menyerah dalam persaingan dengan generasi baru.
“Apakah mereka lebih baik saat ini? Ya, level mereka luar biasa,” katanya. “Tapi itu tidak berarti saya mengibarkan bendera putih. Saya akan bertarung sampai poin terakhir.”
Sikap tersebut menegaskan mental juara yang selama ini menjadi ciri khas Djokovic.
Ia tidak hanya mengandalkan pengalaman, tetapi juga determinasi dan kepercayaan diri untuk terus menantang pemain-pemain muda terbaik dunia.
Mengejar Rekor Sepanjang Masa
Australian Open edisi kali ini memiliki makna historis bagi Djokovic. Dengan 10 gelar sebelumnya, ia kini mengincar titel ke-11 di Melbourne.
Jika berhasil, Djokovic juga akan mengoleksi 25 gelar Grand Slam, memecahkan rekor sepanjang masa dan melewati catatan Margaret Court.
Selain itu, Djokovic baru saja mencatatkan sejarah lain dengan menjadi pemain pertama yang meraih 100 kemenangan di tiga turnamen Grand Slam berbeda.
Catatan tersebut semakin menegaskan statusnya sebagai salah satu petenis terhebat sepanjang masa.
Kondisi Fisik Masih Terjaga
Menjelang semifinal, kondisi fisik Djokovic juga menjadi sorotan. Tambahan waktu pemulihan akibat walkover di babak sebelumnya memberi keuntungan tersendiri bagi sang petenis Serbia.
Djokovic mengungkapkan bahwa ia hanya mengalami lecet ringan dan tidak ada masalah besar yang mengganggu pergerakannya di lapangan.
“Masalah kecil selalu ada setiap hari,” ujarnya. “Tapi tidak ada cedera serius yang menghalangi saya bermain seperti yang saya inginkan.”
Dengan kondisi fisik yang relatif stabil, Djokovic siap menghadapi tantangan berikutnya, baik melawan Jannik Sinner maupun Ben Shelton.
BACA JUGA: Hajar Anisimova, Jessica Pegula Cetak Sejarah di Australia Open 2026
Ambisi Sang Legenda Masih Hidup
Di tengah gempuran era baru, satu hal yang jelas: Novak Djokovic Tak Menyerah. Ia masih lapar gelar, masih percaya diri, dan masih siap bertarung di panggung terbesar tenis dunia.
Australian Open bukan sekadar turnamen baginya, melainkan simbol kejayaan, konsistensi, dan tekad untuk terus menulis sejarah, meski usia terus bertambah dan persaingan makin ketat.






