Sara Bejlek tak merayakan gelar terbesarnya dengan selebrasi berlebihan. Tidak ada lompatan euforia, tidak pula ia terjatuh ke lapangan. Namun justru di situlah letak kekuatan kisahnya.
Ketika backhand Ekaterina Alexandrova terakhir menyangkut di net pada final Mubadala Abu Dhabi Open 2026, Sabtu (7/2/2026) lalu, Bejlek melangkah masuk ke dalam baseline, berhenti sejenak, lalu memejamkan mata.
Raket ia seimbangkan di atas kepala dengan kedua tangan. Senyum perlahan muncul, bukan ledakan emosi, melainkan pelepasan tekanan yang telah ia simpan selama delapan hari penuh.
“Itu seperti semua tekanan langsung keluar,” ujar Sara Bejlek setelah pertandingan. “Aku hanya merasa bahagia. Tidak ada apa pun di kepala. Aku menikmati momen itu sepenuhnya.”
Final Penuh Tekanan yang Mengubah Hidup Sara Bejlek
Kemenangan 7-6(5), 6-1 atas Ekaterina Alexandrova di final WTA Tour Driven by Mercedes-Benz bukan sekadar skor di papan pertandingan.
Itu adalah kemenangan ketujuh Sara Bejlek dalam delapan hari, sebuah perjalanan luar biasa bagi seorang petenis kualifikasi yang datang tanpa ekspektasi besar, lalu pulang membawa trofi WTA 500.
Set pertama menjadi ujian mental terberat. Bejlek sempat tertinggal 4-2 di tiebreak, setelah sebelumnya menyia-nyiakan dua set point.
Namun alih-alih runtuh, petenis kidal asal Ceko itu justru menemukan ketenangan. Ia memenangi lima dari enam poin terakhir di tiebreak, lalu tampil dominan di set kedua hingga memastikan gelar terbesar dalam karier mudanya.
“Aku hanya mencoba lebih tenang,” kata Bejlek. “Di awal tiebreak aku cukup gugup karena tekanan ada di pihakku. Tapi aku menenangkan diri dan mulai percaya.”
Kepercayaan itulah yang menjadi bahan bakar utama sepanjang pekan di Abu Dhabi.
Mengalahkan Keterbatasan Fisik dengan IQ dan Rasa Bermain
Sara Bejlek tidak memiliki postur yang mengintimidasi. Tingginya bahkan tak mencapai 160 cm. Di hampir setiap pertandingan, ia berdiri di seberang net menghadapi lawan yang lebih tinggi, lebih kuat, dan lebih berpengalaman. Namun keterbatasan fisik justru melahirkan keunggulan lain.
Bejlek mengandalkan kecerdasan bermain yang matang, variasi pukulan, dan rasa tenis yang terasa jauh melampaui usianya.
Ia gemar menggunakan slice untuk memotong ritme lawan, memancing mereka maju ke depan dengan bola pendek, lalu menghukum dengan passing shot atau lob akurat.
Melawan Alexandrova, seorang baseliner klasik dengan forehand bertenaga, strategi itu berjalan nyaris sempurna.
BACA JUGA: Drama Tiga Set, Comeback Gila, dan Kejutan Beruntun: Hasil Lengkap Qatar Open 2026 Hari Pertama
Pertahanannya nyaris tanpa henti. Mobilitasnya tinggi. Dan statusnya sebagai petenis kidal memberi sudut-sudut sulit yang kerap membuat lawan salah langkah.
“Memang tidak enak kalau tubuhku kecil,” kata Bejlek sambil tertawa. “Tapi aku pakai kekuatan yang aku punya, lari, bertahan, dan saat ada kesempatan, memukul lebih keras. Aku memanfaatkan hal-hal yang tidak dimiliki pemain tinggi.”
Ia bermain berdasarkan perasaan di setiap momen, dan itu menjadi senjata yang sulit ditebak.
Lompatan Ranking Besar dan Kebangkitan Setelah Masalah Kesehatan
Sebelum turnamen ini dimulai, peringkat Sara Bejlek masih berada di posisi 101 dunia. Dengan gelar di Abu Dhabi, ia melonjak 49 peringkat ke posisi 52 WTA, bahkan satu tingkat di atas kompatriotnya, Barbora Krejcikova, juara Grand Slam dua kali.
“Itu sangat berarti,” ujar Bejlek. “Tapi aku tahu di balik ini ada kerja keras panjang dari aku dan tim. Beberapa tahun terakhir kami berjuang dengan masalah kesehatan. Sekarang aku sangat bahagia dengan cara kami melewatinya dan mengambil sisi positif dari semua itu.”
Gelar ini bukan hanya tentang trofi, melainkan tentang pembuktian bahwa masa sulit bisa dilampaui dengan kesabaran dan keyakinan.
Menang atas Pemain Top 20, Mental Sara Bejlek Naik Level
Di Abu Dhabi, Bejlek mencatat pencapaian penting lain: untuk pertama kalinya dalam karier, ia mengalahkan dua pemain Top 20, yakni Clara Tauson dan Ekaterina Alexandrova. Itu menjadi validasi besar bagi dirinya.
“Sekarang aku tahu aku bisa bersaing dengan pemain top,” katanya. “Aku tidak perlu takut lagi. Orang-orang di sekitarku selalu bilang begitu, tapi sekarang aku benar-benar merasakannya. Di tenis putri, semuanya soal mental.”
Kepercayaan diri itu terasa nyata dalam setiap pukulan di final.
Tradisi Panjang Petenis Putri Ceko
Sara Bejlek adalah bagian dari tradisi panjang tenis putri Ceko yang konsisten melahirkan bintang. Ia tumbuh di lingkungan yang penuh inspirasi, berlatih bersama sesama pemain berbakat, dan saling mendorong untuk berkembang.
“Kami saling menginspirasi,” katanya. “Punya banyak pemain bagus di Ceko itu luar biasa. Kami bisa berlatih bersama, berkembang bersama.”
Saat kecil, Bejlek mengidolakan Rafael Nadal. Dari Ceko, sosok Petra Kvitova, sesama kidal, menjadi panutan besarnya. Meski gaya bermain mereka berbeda, Bejlek mengagumi karakter dan keberanian Kvitova di lapangan.
Usia Baru, Awal Cerita Baru
Menariknya, Sara Bejlek baru saja berusia 20 tahun pada hari final, 31 Januari. Di sepanjang pekan, usia itu menjadi bahan candaan di timnya.
“Mereka bilang kalau aku masih 19, mungkin aku tidak akan menang,” ujarnya sambil tertawa. “Katanya, umur 20 mengubah hidup. Tapi jujur, aku tidak memikirkan apa pun minggu ini.”
Dan mungkin itulah kunci kesuksesannya: bermain tanpa beban, tanpa narasi besar, hanya fokus pada setiap poin.
BACA JUGA: Datang ke Doha dengan Aura Juara Grand Slam, Elena Rybakina Siap Kuasai WTA 1000 Qatar Open
Tantangan Berikutnya Menanti
Setelah Abu Dhabi, Sara Bejlek bersiap melanjutkan perjalanannya di Dubai. Saat ini ia masih berada di babak kualifikasi, sembari menunggu kemungkinan wild card.
Apa pun yang terjadi selanjutnya, satu hal sudah pasti: nama Sara Bejlek kini bukan lagi kejutan sesaat. Ia telah mengumumkan dirinya sebagai kekuatan baru, dengan kecerdasan, keberanian, dan rasa bermain yang sulit ditandingi.






