Lolos ke Babak Kedua Australia Terbuka menjadi cerita pembuka yang emosional sekaligus penuh makna bagi Jannik Sinner.
Juara bertahan dua kali itu memastikan langkah aman ke ronde berikutnya setelah lawannya, Hugo Gaston, terpaksa mengakhiri perlawanan lebih cepat karena sakit.
Di malam yang sama, Taylor Fritz juga mencuri perhatian lewat kemenangan dramatis yang menuntut stamina dan ketenangan ekstra.
Turnamen Grand Slam pertama musim ini kembali menegaskan satu hal: para unggulan datang dengan ambisi besar, namun jalan menuju kejayaan selalu menyimpan drama.
Dari dominasi singkat Sinner hingga pertarungan panjang Fritz, Melbourne Park menyuguhkan kisah pembuka yang sarat emosi.
Sinner Lolos ke Babak Kedua Australia Terbuka dengan Cara Tak Biasa
Jannik Sinner datang ke Rod Laver Arena dengan status istimewa: dua kali juara bertahan dan kandidat kuat pencetak sejarah.
Namun tiket ke babak kedua Australia Terbuka kali ini diraihnya dengan cara yang tidak sepenuhnya ia inginkan.
Petenis Italia itu unggul meyakinkan 6-2, 6-1 saat Hugo Gaston, petenis asal Prancis, memutuskan mundur karena kondisi kesehatan.
Gaston sebelumnya sempat memanggil dokter usai set pertama, dan di set kedua terlihat semakin kesulitan mengikuti tempo permainan.
Bagi Sinner, kemenangan ini memang sah, tetapi rasa puas tak sepenuhnya hadir.
“Saya bisa melihat servisnya tidak sekuat biasanya, terutama di set kedua. Ini bukan cara ideal untuk menang,” ujar Sinner dengan nada empati. “Dia pemain bertalenta. Saya tahu saya harus bermain agresif dan menjaga level permainan setinggi mungkin. Saya senang bisa kembali ke sini.”
Dengan hasil ini, rekor pertemuan Sinner atas Gaston semakin tebal: 3-0 di seri Lexus ATP Head2Head. Lebih dari sekadar angka, kemenangan tersebut menjadi sinyal bahwa sang juara bertahan tetap berada di jalur yang tepat.
Ambisi Sejarah: Memburu Tiga Gelar Beruntun
Australia Terbuka 2026 bukan sekadar turnamen biasa bagi Sinner. Ia tengah mengincar prestasi langka: menjadi petenis putra kedua di Era Terbuka yang mampu menjuarai Melbourne tiga kali berturut-turut.
Catatan itu sejauh ini hanya dimiliki Novak Djokovic, yang pernah melakukannya dua kali, pada 2011-2013 dan 2019-2021. Target tersebut membuat setiap langkah Sinner selalu disorot, sekecil apa pun detailnya.
Di babak berikutnya, Sinner akan menghadapi pemenang duel antara lucky loser Dino Prizmic dan wakil tuan rumah penerima wildcard, James Duckworth. Lawan boleh berbeda, tetapi tekanan untuk terus sempurna jelas semakin besar.
Dropshot Indah dan Awal Penuh Tekanan
Meski skor terlihat timpang, pertandingan melawan Gaston tidak sepenuhnya tanpa cerita. Pada gim keenam, Sinner menghadirkan salah satu momen terbaik malam itu: sebuah dropshot halus yang memaksa Gaston berlari dan terjatuh saat mencoba mengejar bola.
Sinner langsung menghampiri lawannya di depan net, memastikan kondisi Gaston baik-baik saja. Insiden itu ternyata tidak berkaitan langsung dengan keputusan mundur, tetapi cukup menggambarkan sportivitas sang juara.
Di awal laga, Sinner juga sempat diuji. Pada gim pembuka, ia tertinggal 0/40 saat melakukan servis. Situasi genting itu berhasil ia atasi dengan kepala dingin, menyelamatkan tiga break point sekaligus.
Menurut catatan Infosys Stats, setelah momen tersebut, Sinner tidak lagi menghadapi ancaman break point hingga pertandingan berakhir.
Total waktu bermain hanya 68 menit, cukup singkat untuk ukuran Grand Slam, namun penuh pesan: Sinner siap tempur.
“Saya merasa sangat siap hari ini. Ada sedikit ketegangan di awal, tapi itu wajar. Kami berlatih untuk momen seperti ini. Rasanya luar biasa bisa kembali bermain di sini,” ungkapnya.
Taylor Fritz Bertahan di Laga Marathon
Jika Sinner melaju dengan relatif cepat, cerita berbeda datang dari Taylor Fritz. Petenis peringkat 9 dunia itu harus bertarung habis-habisan selama tiga jam dua menit demi satu tiket ke babak kedua.
Menghadapi Valentin Royer, Fritz menang dengan skor ketat: 7-6(5), 5-7, 6-1, 6-3. Dua set pertama menjadi duel fisik yang menguras tenaga, penuh reli panjang dan tekanan mental.
“Dua set awal benar-benar pertarungan,” kata Fritz. “Sangat fisik. Tapi saya senang dengan cara saya bangkit setelah kehilangan set kedua.”
Kunci kemenangan Fritz terlihat jelas di set ketiga dan keempat. Ia tampil lebih agresif, servis lebih stabil, dan memaksa Royer kehilangan ritme. Hasilnya, set ketiga direbut telak 6-1, sebelum menutup laga 6-3 di set keempat.
Kemenangan ini membawa Fritz bertemu Vit Kopriva di babak selanjutnya. Bagi petenis Amerika itu, Australia Terbuka menyimpan kenangan manis: perempat final pada edisi 2024 menjadi pencapaian terbaiknya di Melbourne.
“Saya merasa sangat tenang dan percaya diri di dua set terakhir. Itu yang membuat perbedaan,” ujarnya.
Malam Pembuka yang Menegaskan Peta Kekuatan
Hari-hari awal Australia Terbuka sering kali menjadi barometer kekuatan para unggulan. Dari cerita malam ini, satu kesimpulan jelas: para favorit belum tergelincir, tetapi jalan mereka penuh nuansa berbeda.
Sinner tampil dominan namun diuji secara emosional oleh kondisi lawan. Fritz lolos dengan perjuangan panjang, membuktikan mentalitas petarungnya tetap terjaga.
Di balik skor dan statistik, ada pesan lain yang menguat: turnamen ini baru dimulai, dan drama baru akan terus bermunculan.
BACA JUGA: Novak Djokovic Rayakan Kemenangan ke-100 di Australian Open 2026, Langkah Awal Menuju Sejarah Baru
Harapan, Tekanan, dan Mimpi di Melbourne
Bagi Jannik Sinner, lolos ke babak kedua Australia Terbuka bukan hanya tentang satu kemenangan. Ini adalah langkah kecil menuju mimpi besar, menulis ulang sejarah di arena yang telah memberinya dua mahkota.
Bagi Taylor Fritz, kemenangan panjang ini menjadi pengingat bahwa ketahanan mental sama pentingnya dengan teknik.
Melbourne kembali hidup, ribuan penonton menyaksikan awal perjalanan para bintang. Dan di tengah sorak-sorai itu, satu pertanyaan terus menggema: siapa yang akan bertahan hingga akhir, dan siapa yang harus pulang lebih cepat?
Turnamen masih panjang. Cerita baru menanti. Dan setiap bola yang dipukul membawa harapan, tekanan, serta ambisi yang tak pernah padam.






