Tenis  

Hasil Australia Open – Iva Jovic Gagal Ke Semifinal: Mimpi Remaja Amerika Terhenti di Tangan Ratu Melbourne

Iva Jovic Gagal Ke Semifinal Mimpi Remaja Amerika Terhenti di Tangan Ratu Melbourne
Iva Jovic - Dokumentasi IG: @wta

Perjalanan luar biasa Iva Jovic di Australian Open akhirnya menemukan batasnya. Setelah mencuri perhatian dunia sebagai remaja terakhir yang bertahan di undian tunggal putri, langkah petenis 18 tahun itu terhenti di perempat final.

Di panggung terbesar Rod Laver Arena, Jovic harus mengakui keunggulan petenis nomor satu dunia, Aryna Sabalenka, yang menang meyakinkan 6-3, 6-0.

Laga ini menandai momen penting dalam karier Jovic. Meski Bintang Muda Iva Jovic Gagal Ke Semifinal, kekalahan tersebut justru mempertegas bahwa tenis putri tengah menyambut kelahiran bintang baru.

Di bawah terik Melbourne, duel ini bukan hanya tentang hasil, melainkan tentang peralihan generasi dan pelajaran berharga bagi seorang remaja yang baru memulai petualangannya di level tertinggi.

Dari Remaja Terakhir Bertahan Hingga Perempat Final Pertama

Sejak awal turnamen, nama Iva Jovic perlahan naik ke permukaan. Ia datang tanpa status unggulan, namun satu per satu lawan tumbang di hadapannya. Di antara deretan petenis muda, Jovic menjadi satu-satunya remaja yang bertahan hingga pekan kedua.

Kemenangan paling bersejarah datang di babak ketiga. Menghadapi unggulan ketujuh Jasmine Paolini, Jovic tampil tanpa rasa takut. Ia menang 6-2, 7-6(3), mencatat kemenangan pertamanya atas petenis Top 10 di level WTA. Hasil itu langsung mengubah statusnya dari sekadar talenta muda menjadi rising star yang diperhitungkan.

BACA JUGA: Taylor Fritz Akui Cedera Mengganggu Permainan, Tersingkir di Australia Open

Momentum berlanjut di babak 16 besar saat ia menyingkirkan Yulia Putintseva dengan permainan dominan. Tanpa kehilangan satu set pun, Jovic melaju ke perempat final Grand Slam pertamanya, sebuah pencapaian yang bahkan sulit diraih banyak petenis senior.

Namun, di babak delapan besar, ujian sesungguhnya menunggu.

Ujian Terberat Bernama Aryna Sabalenka

Di perempat final, Jovic menghadapi tantangan paling berat dalam hidupnya: Aryna Sabalenka. Petenis asal Belarus itu bukan hanya unggulan teratas, tetapi juga juara dua kali Australian Open dan finalis tiga edisi beruntun di Melbourne.

Sabalenka datang dengan misi jelas: menembus semifinal keempat berturut-turut dan menjaga peluang meraih gelar ketiga di Rod Laver Arena. Di atas kertas, perbedaan pengalaman dan kekuatan sangat mencolok.

Meski demikian, Jovic memasuki laga dengan kepercayaan diri tinggi. Ia tahu ini adalah kesempatan emas untuk mengukur sejauh mana levelnya dibandingkan ratu dunia.

Set Pertama: Perlawanan Panjang di Tengah Panas Ekstrem

Pertandingan dimulai di bawah suhu hampir 100 derajat Fahrenheit. Sabalenka langsung menunjukkan kelasnya dengan mematahkan servis Jovic di awal dan melesat unggul 3-0.

Namun, Jovic tidak runtuh. Ia bertahan dalam gim panjang selama delapan menit untuk memperkecil skor menjadi 3-1. Pada gim berikutnya, ia kembali melalui reli melelahkan hampir sembilan menit dengan empat kali deuce, menjaga asa tetap hidup di skor 4-2.

Sabalenka, di sisi lain, tampil sangat efisien. Servisnya nyaris tak tersentuh, dan ia mengamankan keunggulan 5-2 tanpa drama.

Gim kesembilan menjadi simbol perlawanan Jovic. Selama 11 menit, kedua pemain bertukar serangan dalam lima deuce, tiga set point, dan tiga break point. Namun, di momen paling menentukan, Sabalenka mengakhiri set pertama dengan backhand winner ke-21-nya, memastikan kemenangan 6-3 tepat dalam satu jam.

Set pertama menjadi bukti bahwa Jovic mampu mengimbangi, meski akhirnya pengalaman berbicara.

BACA JUGA: Hasil AO 2026 – Ben Shelton Rebut Tiket Perempat Final Usai Singkirkan Casper Ruud di Australian Open

Set Kedua: Dominasi Total Sang Petenis Nomor Satu

Memasuki set kedua, Sabalenka menaikkan tempo. Ia bermain lebih agresif, mengambil bola lebih awal, dan memaksa Jovic terus berada dalam posisi bertahan.

Tekanan itu langsung berbuah. Sabalenka mematahkan servis Jovic berkali-kali dan melaju tanpa memberi celah. Skor 6-0 di set kedua tercipta dengan cepat, memperlihatkan perbedaan tajam antara petenis yang sudah matang dan remaja yang masih dalam proses belajar.

Meski demikian, Jovic tidak sepenuhnya menyerah. Di gim terakhir, ia masih sempat menciptakan dua break point. Namun, Sabalenka mematahkan harapan itu dengan sebuah ace keras, sebelum menutup laga dengan ace ketujuhnya.

Dalam waktu kurang dari 90 menit, pertandingan berakhir dengan skor 6-3, 6-0 untuk Sabalenka.

Pengakuan Sabalenka untuk Lawan Mudanya

Usai laga, Sabalenka tidak ragu melontarkan pujian.

Ia menyebut Jovic sebagai pemain muda yang hebat, lapar akan kemenangan, dan selalu berjuang di setiap poin. Menurutnya, pada set kedua ia sengaja meningkatkan tekanan karena melihat bahwa Jovic, meski tertinggal, tetap berusaha menemukan celah.

Bagi Sabalenka, kemenangan ini bukan hanya tiket ke semifinal keempat berturut-turut, tetapi juga pertemuan penting dengan masa depan tenis putri.

Di semifinal, Sabalenka akan menghadapi pemenang laga antara Coco Gauff dan Elina Svitolina, dalam upaya mengejar semifinal Grand Slam ke-14 sepanjang kariernya.

Makna Kekalahan bagi Seorang Bintang Baru

Bagi Iva Jovic, kekalahan ini memang menyakitkan. Namun, jika melihat perjalanan yang ia lalui, hasil ini justru menjadi fondasi masa depan.

Dalam satu turnamen, Jovic telah: Menjadi remaja terakhir bertahan di undian, menang tanpa kehilangan set hingga perempat final, dan mengalahkan petenis Top 10, serta menembus perempat final Grand Slam pertama di usia 18 tahun.

Meski Bintang Muda Iva Jovic Gagal Ke Semifinal, ia pulang dari Melbourne dengan status baru: bukan lagi prospek, melainkan ancaman nyata di level tertinggi.

Kekalahan dari Sabalenka bukan akhir cerita, melainkan pelajaran mahal tentang konsistensi, fisik, dan mental yang dibutuhkan untuk menjadi juara Grand Slam.

BACA JUGA: Hasil Australia Open 2026 – Jannik Sinner Menang Mudah Lawan Rekan Senegaranya dan Melaju ke Perempat Final

Awal dari Perjalanan Panjang

Di Rod Laver Arena, mimpi Jovic memang terhenti. Namun, dunia tenis telah melihat cukup banyak untuk percaya bahwa ini baru permulaan.

Ia masih 18 tahun. Dengan pengalaman perempat final Grand Slam di tangan, Jovic kini memiliki modal yang tak ternilai untuk menatap musim-musim berikutnya.

Hari ini, ia kalah dari ratu. Besok, bukan mustahil ia akan menjadi ratu berikutnya. Dan dari Melbourne inilah, kisah besar itu resmi dimulai.